follow me for get something special from me

Tuesday, 9 September 2014

LP fraktur



FRAKTUR

DEFINISI

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (KMB edisi 8 vol 3).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Kapita Selekta Kedokteran).
Fraktur dapat dibagi menjadi:
  1. fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan duia luar.
  2. fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan duia luar karena adanya perlukaan di kulit.

Fraktur adalah pemisahan atau patah tulang. ada 5 klasifikasi utama fraktur adalah :
  1. Incomplete : Fraktur hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang. salah satu sisi patah, yang lain biasanya hanya bengkok (grreenstick).
  2. Complete : Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
  3. Tertutup (simple) fraktur tidak meluas melewati kulit .
  4. Terbuka (Compound) : fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi.
  5. Patologis : fraktur terjadi pada peyakit tulang (seperti kaker, osteoporosis), dengan tidak ada trauma atau hanya minimal.
(Kapita Selekta Kedokteran).




ETIOLOGI

Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan konstraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan luak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. (KMB edisi 8 vol 3).

MANIFESTASI KLINIS

  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
  2. Deformitas
  3. Terjadi pemendekan tulang karena konstraksi otot yang melekat di atas da bawah tempat fraktur.
  4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan teraba adaya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
(KMB edisi 8 vol 3).

PENATALAKSANAAN KEDARURATAN

Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai, untuk mecegah kerusakan jaringan luak oleh fragmen tulang.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasag bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tugkai bersama, dengan ekstremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera.Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) utuk mecegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi degan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Ekstremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakan.
(KMB edisi 8 vol 3).

PRINSIP PENANGANAN FRAKTUR

1.      Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.
a.       Reduksi Tertutup ; pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubugan) dengan manipulasi dan traksi manual.
b.      Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
c.       Reduksi Terbuka. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku, atau batangan logam dapa digunakan untuk empertahankan fragmen tulang dalam posisinya sapai penyembuhan ulang yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakan disisi tulang atau dipasang melalui fragmen tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang.
2.      Imobilisasi fraktur
3.      Mempertahakan dan mengembalikan fungsi.





KOMPLIKASI FRAKTUR
Komplikasi Awal
  1. Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (baik kehilagan darah ekstena maupun yang tak kelihatan) dan kehilangan cairan eksrasel ke jaringan yang rusak
  2. Sindrom Emboli Lemak, setelah fraktur terjadi dapat terjadi emboli lemak, khususnya pada dewasa muda (20 samapi 30 tahun) pria.

Komplikasi Lambat
  1. Penyatuan Terlambat atau tidak ada Penyatuan
  2. Nekrosis Avaskuler Tulang
  3. Reaksi erhadap Alat Fiksasi Interna.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  1. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur / trauma
  2. skan tulang, tomogram, skan CT/MRI memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
  3. Hitung darah lengkap
  4. profil koagulasi

PROSES KEPERAWATAN
a.      Pengkajian
  1. Aktivitas /Istirahat
Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
  1. Sirkulasi
Hipertensi (kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri / ansietas)atau hipotensi, Takikardia (respon Stress), Penuruan/ tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera; pengisian kapiler lambat, pucat pasi bagia yang terkena. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.


  1. Neurosensori
Hilang gerakan / sensasi, spasme otot, kesemutan (parestesis), deformitas lokal, krepitasi, agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas atau rauma lain).
  1. Nyeri / Kenyamanan
Nyeri berat tiba – tiba pada saat cedera, tak ada yeri akibat kerusaka saraf, kram otot (setelah imobilisasi)
  1. Keamanan
Laserasi kulit, perdarahan, perubahan warna, pembegkakan lokal.

ANALISA DATA
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
DS:
-         Klien mengeluh nyeri pada bagian yang cedera.
-         Klien megatakan nyeri bertambah bila bergerak.
DO:
-         Klien tampak meringis
-         Mempertahakan pada satu posisi
-          
Trauma / cedera pada jaringan lunak
Meragsang pengeluaran zat bradikinin dan dihantarakan ke hipotalamus
Nyeri dipersepsikan
Nyeri bertambah apabila bergerak








Nyeri
DS:
-         Klien mengatakan nyeri bertambah apabila bergerak
DO:
-         klien tampak mempertahankan satu posisi
-         ADL dibantu
Adaya Cedera / fraktur
Kerusakan rangka euro muskuler
Nyeri dipersepsikan
Neri bertambah apabila bergerak
Kerusakan mobilitas fisik
DS:
DO:
-         Adanya luka akibat fraktur
-         Terpasang traksi
Indikasi Fraktur
Adaya luka terbuka dan diindikasika  untuk pemasangan traksi
Kontinuitas jarigan terputus
Integritas kulit terganggu
Kerusakan integritas kulit / jaringan
DS:
DO:
-         adanya luka pada area fraktur
-         Adanya kemeraha di area luka
-         Luka masih basah
-          
Fraktur terbuka
Port de entry mikroorgaisme
Tanda infeksi terlihat
Resikio tinggi infeksi
Resiko tinggi infeksi
DS:
DO:
-         Klien tampak banyak bertanya mengenai penyakitnya
-         Klie tampak gelisah

Fraktur / cedera
Kurang inforamsi mengenai keadaan yang dialami
Gelisah dan cemas
Klien banyak bertanya

Kurang pengetahuan


b.      Masalah Keperawatan
  1. Nyeri
  2. Kerusakan mobilitas fisik
  3. Kerusakan integrias kulit / jaringan
  4. Resiko tinggi infeksi
  5. Kurang pengetahuan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri b.d. Gerakan Fragmen Tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak.
  2. Kerusakan Mobilitas Fisik b.d. Kerusakan rangka Neuromuskuler; nyeri/ketidaknyamanan.
  3. Kerusakan Integritas Kulit / Jaringan b.d. fraktur terbuka; pemasangan traksi pen; akumulasi sekret.
  4. Resiko Tinggi Infeksi b.d. trauma jaringa terpajan pada lingkungan; tidak adekuatnya pertahanan primer.
  5. Kurang pengetahua b.d. tidak megenal sumber informasi / salah interpretasi informasi.
Post a Comment