follow me for get something special from me

Tuesday, 9 September 2014

LP dan askep herpes



BAB I
PENDAHULUAN



1.1.        Latar Belakang Masalah
Herpes Zoster adalah radang kulit akut dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang tersusun kelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya unilateral.
(Purrawan Juradi, 1982 : 510).
Anak-anak yang telah sembuh dari infeksi yang diakibatkan oleh virus zoster resisten terhadap varisela dan anak yang telah menderita varisela tidak lagi peka terhadap virus zoster primer. Herpes zoster lebih sering menyerang pada orang dewasa 40 tahun ke atas.
Teknik perawatan herpes zoster harus dapat dikuasai dan dijalankan oleh mahasiswa untuk dapat memenuhi kompetensinya dalam perawatan pasien dengan gangguan sistem integumen. Herpes zoster dengan  melaksanakan asuhan keperawatan yang kompherensif agar klien dapat meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan dapat hidup produktif lagi.

1.2.        Tujuan Penulisan
a.         Tujuan umum           : Mahasiswa mampu mengetahui dan menyelenggarakan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem integumen ; herpes zoster dengan pendekatan proses keperawatan.
b.         Tujuan khusus          : Mahasiswa mampu mengetahui dan menyelenggarakan asuhan dengan gangguan sistem integumen ; herpes zoster meliputi :
1.      Mengkaji data dasar pasien.
2.      Mengelompokkan dan menganalisis data.
3.      Menentukan masalah.
4.      Membuat diagnosa.
5.      Membuat rencana keperawatan.
6.      Menentukan tujuan & kriteria keberhasilan.
7.      Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rerpa
8.      Mengevaluasi hasil tindakan seuai dengan kriteria keberhasilan.
9.      Mendokumentasikan asuhan keperawatan.
10.  Memberikan perkes.
                       
1.3.        Rumusan Masalah
Materi yang dibahas dalam makalah ini meliputi :
a.         Konsep dasar erpes zoster
b.         Proses keperawatan herpes zoster
c.         Asuhan keperawatan pada klien dengan herpes zoster

1.4.        Metoda dan Teknik Penulisan
Data disusun secara deskriptif dengan menjelaskan keadaan klien herpes zoster. Data yang disusun didapatkan dari :
a.            Study lapangan
Menggunakan Ruang perawatan XIV sebagai lahan praktek dalam mencari kasus herpes zoster. 
b.            Wawancara
Mencari data dengan wawancara klien dan keluarga
c.            Observasi dan pemeriksaan fisik
Mengobservasi keadaan klien
d.            Study dokumentasi
Menggunakan catatan medik klien
e.            Study literatur
Menggunakan buku-buku sumber yang berhubungan dengan penyakit herpes zoster dan perawatannya.

1.5.        Sistematika Penulisan
Bab I               :           Menjelaskan tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan makalah, metode dan teknik penulisan serta sistematika penulisan.
Bab II              :           Menguraikan tentang konsep dasar penyakit herpes zoster meliputi definisi, etiologi, patologi, stadium dan klasifikasi serta proses keperawatan.
Bab III             :           Memaparkan tentang bentuk asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem integumen herpes zoster.
Bab IV            :           Memaparkan penutup dengan menguraikan kesimpulan dan saran.






































BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1.        Definisi
a.            Menurut Purrawan Juradi, dkk (1982)  herpes zoster adalah radang kulit dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang tersusun berkelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya unilateral.
b.            Menurut Arif Mansyur, herpes zoster (campak, cacar ular) adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus varicella. Zoster yang menyerang kulit dan mukosa infeksi ini merupakan reaktivitas virus yang terjadi setelah infeksi primer kadang-kadang infeksi berlangsung sub kronis.
c.            Menurut Jewerz .E. dkk (1984) herpes zoster adalah suatu penyakit sporadik yang melemahkan pada orang dewasa yang ditandai oleh reaksi peradangan radiks posterior syaraf dan ganglia. Diikuti oleh kelompok vesikel di atas kulit yang dipersyarafi oleh syaraf sensorik yang terkena.
d.            Menurut Peruus herpes zoster adalah radang kulit akut yang disebabkan oleh virus Varisella zoster dengan sifat khas yaitu tersusun sepanjang persyarafan sensorik. 

2.2.        Penyebab
Virus yang disangka sejenis dengan virus penyebab varisella. Virus tersebut menyebabkan radang ganglion radiks posterior.

2.3.        Pencetus
Penurunan imunitas pada :
1.            Keganasan
2.            Radiasi
3.            Imuro suppressive
4.            Penggunaan kortikosteroid yang lama

2.4.        Patogenesis
Masa tunasnya 7-12 hari masa aktif penyakit berupa lesi baru dan yang tetap timbul berlangsung kira-kira 1-2 minggu virus berdiam di ganglion posterior susunan syaraf tepi dan ganglion kronialis.
Lokasi kelainan kulit sekitar daerah persyarafan ganglion kadang-kadang virus menyerang gangguan arterior bagian motorik kranolis sehingga memberikan gejala gangguan motorik.

2.5.        Manifestasi Klinik
1.            Gejala prodormal
Gejala sistemik seperti demam, pusing, malaise, dan lokal (nyeri otot, tulang, gatal, pegal dsb) pada dermatom yang terserang.
2.         Stadium
Timbul popula atau plakat berbentuk urtika setelah 1-2 hari akan timbul gerombolan vesikel dengan dasar kulit yang eritematosa dan odema vesikel air berisi cairan yang jernih.

2.6.        Stadium Krutasi
Vesikel menjadi puruler dapat menjadi pustula dan krusta kadang-kadang vesikel mengandung darah disebut herpes zoster haemorasik krusta akan lepas dalam waktu 1-2 minggu dapat timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyumbatan tanpa sikasrek sering terjadi neuralgia pasca hepatica terutama pada orangtua yang dapat berlangsung berbulan-bulan yang bersifat sementara.

Ciri Khas :
§     Nyeri radikuler
§     Unilateral
§     Gerombolan vesikel yang tersebar sesuai dengan dermatom yang meruasi oleh satu ganglion syaraf sensorik.

Gejala lainnya :
§     Pembesaran KGB regional
§     Kelainan motorik berupa kelainan sentral daripada perifer
§     Fuper parostesi pada daerah yang terkena
§     Kelainan pada muka akibat gangguan trigenirus (dengan gangguan gaseri) atau n. fasialis & optikus (dari gangguan garikulotum)

2.7.        Klasifikasi Herpes Zoster
a.         Herpes Zoster Optalnikus
terjadi infeksi cabang pertama N. Trigenirus yang menimbulkan kelainan pada mata cabang kedua dan ketiga yang menyebabkan kelainan kulit pada daerah persyarafan.
b.         Sindrom Ramsay Hurt
Diakibatkan gangguan N. Fasiolis dan optikus sehingga memberikan   gejala paralysis otot muka (paralisis Bell) kelainan kulit sesuai tingkat persyarafan, kliris  vertigo, gangguan pendengaran, regtagnius dan raisea juga terdapat gangguan pengecapan.
c.         Herpes Zoster Abortif
Berlangsung dalam waktu singkat dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan eritem.
d.         Herpes Zoster Generaligata
Kelainan kulit unilateral dan segmental ditambah yang menyebar secara generalisata berupa vesikel soliter dan ada umbilikasi. Kasus ini terutama terjadi pada orang tua atau pada orang yang kondisi fisiknya sangat lemah, misalnya penderita : Umforra malignum.

2.8.        Komplikasi
Pada usia diatas 40 tahun kemungkinan terjadi neuralgia pasca herpetic.

2.9.        Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan percobaan T. Zarck dapat ditemukan sel dativa berinti banyak.

2.10.     Diagnosa Banding
·                     Herpes simplek
·                     Varicella
·                     Dermatis Contacta alergika
·                     Penyakit dengan efloresersi bulla ; pemfisus vulgaris
·                     Dermatis herpenformis dan dutega
·                     Bulos pumfigord

2.11.     Penatalaksanaan
1.            Therapi sistemik umumnya bersifat simptomatik untuk nyeri diberikan analgetik jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik.
2.            Bila syaraf oftalnikus cabang dari syaraf trigenirus terkena muka dirujuk ke arah mata karena dapat terjadi perporasi kornea.
3.            Pemberian kortikosteroid sistemik diri dapat mencegah timbulnya neuralgia post herpatica dan untuk mencegah fibrosis garcialia.
4.            Therapi topical bergantung pada stadium :
a.            Stadium vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder.
b.             Bila erosif diberikan kompres terbuka.
c.            Bila ulserasi dapat diberikan salep antibiotik.
5.            Kompres pada daerah yang terserang :
a.            Bila lokal kering, bedak berisi aodum berikulm 10%, Oksisum Zursi 10% dan mentol 1%.
b.            Bila basah kompres garam tadi, kompres solutio burowl
6.            Istirahat

2.12.     Asuhan Keperawatan
a.         Pengkajian
            1.         Aktivitas/istirahat
DS   :  Pada stadium predermal/klien mengeluh nyeri otot , lemas.
DO   :  Klien tampak malaise, aktivitas klien tampak terbatas.
2.         Eliminasi
DS   :  Tidak ada perubahan pola eliminasi.
DO   :  -
3.         Sirkulasi
DO   :  Ada eritema daerah dermatom yang terserang pada awal gejala kemerahan.
DS   :  Klien merasa panas pada daerah yang terserang.
4.         Nutrisi
DS   :  Adanya kehilangan nafsu makan, kehilangan sensasi pada lidah.
DO   :  Penurunan berat badan.
5.         Neurologi
DS   :  Adanya pusing, nyeri, menurunnya penglihatan, gangguan penciuman, neuralgia hebat pada orang tua.
DO   :  Paralise wajah, sukar berkomunikasi secara verbal, pendengaran berkurang, paralise otot intrinsik dan ekstrinsik mata.
6.         Integumen
DS   :  Klien mengeluh ada perubahan pada dirinya berupa tidak ada rasa pada daerah yang terserang.
DO   :  Pada stadium prodormal belum terlihat kelainan pada kulit dan akar muncul pada stadium erupsi berupa popula - vesikel berisi cairan yang jernih serta pada stadium krusta berbentuk vesikel, purulen, prostula, krusta – ulpus – sikatrik.
7.         Psikologik
DS   :  Klien merasa tidak berselera, tidak ada harapan merasa menarik dengan keadaannya.
DO   :  Tidak kooperatif labil, moral kesukaran mengekspresikan perasaannya perubahan citra tubuh.
8.         Interaksi sosial
Kerusakan komunikasi, sukar bicara, perubahan peran.
9.         Kenyamanan/nyeri
DS   :  Nyeri radikuler.
DO   :  Gelisah dan ekspresi wajah tegang.
10.       Pendidikan kesehatan
DS   :  Adanya riwayat varisella, gangguan kontrikosteroid lama.



Pemeriksaan Diagnostik
Berdasarkan :
1.            Gejala, gejala kurik.
2.            Sitologi (64% Tzarck sinear +) adanya sel raksasa yang multi lokuler dan sel akan tolitek.
3.            Kultur virus (lembaga virology)

b.         Diagnosa Keperawatan
1.            Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan prunitus.
2.            Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan erupsi dermal dan prunitus.
3.            Resiko terhadap penularan infeksi baru berhubungan dengan sifat menular dari organisme.
4.            Perasaan rendah diri.
5.            Resiko terhadap ketidak aktifan pelaksanaan aturan therapeutika berhubungan dengan ketidak cukupan tentang kondisi (penyabab perjalanan penyakit) pencegahan, pengobatan dan perawatan kulit.

c.         Intervensi
1.         Dx 1                :  Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan lesi dan prunitus.
            Tujuan           :  Lesi mulai pulih dan area bebas dari infeksi lanjut, kulit besih kering.
            Intervensi      :
-                Kaji kerusakan, ukuran, kedalaman, warna, cairan setiap 4 jam.
-                Perhatikan teknik aseptic.
-                Gunakan kompres basah/kering.
-                Pantau suhu tiap 4 jam, laporkan ke dokter jika ada peningkatan.


2.         Dx 2                :  Resiko terhadap penularan infeksi.
            Tujuan           :  Penularan infeksi tidak terjadi.
            Intervensi      :
-                Cuci tangan sesudah dan sebelum tindakan
-                Perhatikan kebersihan lokal.
-                Pemberian antibiotik untuk mencegah perluasan bakteri dan infeksi.
3.         Dx 3                :  Perasaan rendah diri berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh.
            Tujuan           : 
-                Mengungkapakan perasaan dan pikiran mengenai diri
-                Mengidentifikasi 2 atribut positif mengenai diri.
            Intervensi      : a.      Tetapkan hubungan saling percaya perawat klien.
-                      Dorong individu untuk mengekpresikan perasaan khususnya mengenai cara dia memandang dirinya.
-                      Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang diberikan.
-                      Perjelas berbagai kesalahan konsep individu menganai diri : Perawatan atau pemberi perawatan
-                      Berikan privasi dan lingkungan yang nyaman.
b.      Tingkatkan interaksi sosial
-                      Bantu klien untuk menerima bantuan dari orang lain.
-                      Dukung keluarga sewaktu mereka beradaptasi.
c.      Gali kekuatan dan sumber-sumber individu.
d.      Diskusikan harapan ! Gali alternatif realitas

d.         Implementasi
Tindakan perawatan dilaksanakan berdasarkan masalah yang ada pada klien.

e.         Evaluasi
Apakah kerusakan integritas kulit berkurang ?
Apakah rasa nyaman terpenuhi ?
Apakah klien mampu mengungkapkan perasaan mengenai dirinya ?
Apakah harga diri klien merosot ?
Apakah penular infeksi terjadi ?







BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.A DENGAN DIAGNOSA HERPES ZOSTER DI RUANG PERAWATAN XIV
RUMAH SAKIT DUSTIRA



3.1.      PENGKAJIAN

A.        Biodata

Nama Klien                           : Tn.A
Umur                                      : 24 tahun
Jenis kelamin                       : Laki-laki
Agama                                   : Islam
Pekerjaan                              : TNI-AD
Kesatuan                               : Arhanudri III
Suku bangsa                        : Sunda
Status perkawinan              : Kawin
Alamat                                    : Asrama Kesatuan

Tgl. masuk                             : 20 November 2002
Tgl. dikaji                               : 21 November 2002
No. Register                          : 4372/XI/02
Diagnosa medis                   : Herpes Zoster

B.        Riwayat Kesehatan Klien

1.            Kesehatan sekarang
5 hari sebelum klien masuk rumah sakit, klien mengeluh gatal dan panas pada darah dada kanan dan menjalar ke pungggung kanan dan adanya bintik-bintik kecil sebesar telur ikan. Kemudian klien berobat ke poliklinik kulit dan klien dikirim ke ruang perawatan XIV untuk di opname.
-                      Keluhan
Klien mengeluh panas pada daerah dada kanan dan menjalar ke punggung kanan disertai gatal dan adanya bintik-bintik kecil sebesar  telur ikan, panas dirasakan setiap saat.

-                      Alasan masuk rumah sakit
Klien mengeluh panas dan gatal pada daerah dada kanan dan menjalar ke punggung kanan dan adanya bintik-bintik kecil sebesar telur ikan.
2.            Kesehatan masa lalu
Klien belum pernah menderita penyakit seperti yang diderita saat ini atau penyakit berat lainnya.
3.            Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga klien tidak ada yang menderita kronis, menular penyakit turunan dan penyakit seperti yang diderita klien.
 4.        Struktur keluarga klien

 






Keterangan :                        
Perempuan                                                  
                                               
Laik-laki
                                               
Klien

                        Tinggal serumah

C.           Data Biologis

D.           Data Fisik
1.            Keadaan umum
Kesan umum                        : klien tampak sakit sedang
Penampilan              : lemah
Kesadaran                : CM
2.            TTV                             : T : 110/80 mmhg
  S : 36oC
  N : 94 x/mnt
3.            Kepala                       : rambut hitam dan pendek, kulit kepala bersih.
Mata                           : icterus, anemis, fungsi baik, bentuk simetris.
Hidung                       : lubang simetris, fungsi penciuman baik, pernafasan cuping tidak nampak.
Telinga                       : bentuk simetris, fungsi pendengaran baik, tidak terdapat serumen, tidak menggunakan alat bantu.
Leher                          : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, , tidak teraba massa.
4.            Axilla                          : tidak ada pembesaran kelenjar limpa.
5.             Thorax                       : terdapat herpes zoster yang menjalar kepunggung kanan atas, bentuk simetris
6.            Abdomen                   : bentuk dasar super, keadaan baik, garis usus 20 x/mnt.  
7.              Ekstermitas             : atas dan bawah, tidak ada oederm, tidak ada kelainan, tidak ada varises, reflek baik.
E.        Data Psikologi
1.            Status emosi
Klien tampak gelisah dan cemas akan penyakitnya
2.            Konsep diri
-                      Persepsi terhadap identitas diri : klien adalah sebagai anggota TNI-AD dan sebagai suami sekaligus ayah
-                      Body image : klien merasa dirinya masih mampu dan kuat untuk beraktivitas.
-                      Peran dan tanggung jawab keluarga : klien sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab penuh kepada keluarganya
3.            Gangguan komunikasi : klien berkomunikasi dengan terbuka dan selalu menjawab semua pertanyaan yang diberikan.
4.            Pola interaksi : klien dapat memberikan respon terhadap perawat/teman bicara.
5.            Pola kopirs : apabila ada masalah klien selalu meminta pertimbangan istri dan rekan-rekannya.
F.         Data Sosial
Pendidikan               :   SMA
Pekerjaan                  :   TNI-AD
Hubungan sosial     : Klien mau diajak komunikasi, baik dengan perawat, keluarga dan pasien lain.
G.        Data Spiritual
Klien sangat yakin bahwa penyakitnya dapat sembuh dan klien selalu berdoa untuk kesembuhan penyakitnya.
H.           Data Penunjang

I.              Therapy
-                      Sol Acid Salycil 1%
-                      Aey Clovir 5 x 800 mg/hr
-                      Diloneurobion 3 x 1 tab/hr



3.2.        Analisa data


PRIORITAS MASALAH
1.            Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan proses peradangan, ditandai dengan :
DO               : tampak vesikel berair di daerah dada kanan dan menjalar ke punggung kanan atas.
DS               :  Klien mengeluh nyeri panas dan terbakar.
2.            Kerusakan intensitas kulit berhubungan dengan reaktivitas herpes zoster dengan ditandai dengan :
DO               : tampak vesikel berair di daerah dada kanan dan menjalar ke punggung kanan atas.
DS               :  Klien mengeluh nyeri panas dan terbakar.
3.            Resiko terhadap penularan insfeksi berhubungan dengan sifat-sifat alamiah virus ditandai dengan :
DO               : Klie berinteraksi dengan orang lain,  tampak vesikel berair di daerah dada kanan dan menjalar ke punggung kanan atas.


NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
P E R E N C A N A A N
IMPLEMENTASI
EVALUASI
INTERVENSI
RASIONALISASI
1
2
3
4
5
6
7
1
Gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan jk. panjang :
1. kaji intensitas nyeri dgn
1. Utk mengetahui nyeri
21-11-2002 Jam 10.00
21-11-2002  Jam 12.00

sehubungan dgn peradangan
- Nyeri hilang
    menggunakan skala
    dan tindakan yg harus
1. Mengkaji Intensitas
1. Lokal terasa lebih

Yang ditandai dengan

    nyeri
    Diberikan
    nyeri dengan
    Dingin

DO : Tampak vesikel berair di
Tujuan jk. pendek :
2. Bantu dgn ajarkan
2. Teknik distraksi,
    menggunakan skala
2. Gatal berkurang

daerah dada kanan & menjalar
- Setelah 3 hari
    program terhadap nyeri
    imajinasi & relaksasi
    nyeri dengan


ke punggung kanan atas
  perawatan nyeri
    dengan menggunakan
    Mengalihkan perhatian
2. Membantu dan
21-11-2002  Jam 13.00

DS : Klien mengeluh nyeri dan
  hilang
    teknik relaksasi,
    klien terhadap nyeri
    mengajarkan program
Nyeri berkurang

panas seperti terbakar
  ada
    distraksi & imajinasi
3.pengompresan
    Thp nyeri dengan



- Klien menyatakan
3. Tingkatkan aktivitas
    membantu kelancaran
    menggunakan teknik



  dalam batas yang
    disintraksi
    sirkulasi darah ke
    distraksi



  dapat ditoleransi
4. Beri kompres topikat
    jurusan nyeri & panas
3. Memberikan kompres



- Menampakkan
    sol acid calycil 1%
    Berkurang
    topikal sol acid salycil



  ketegangan
5. Berikan aarolgetik jika
4. Analget membantu
    1%



  ekspresi wajah
    perlu
    memblokir nyeri 
21-11-2002 Jam 12.00



  yang rileks

   
4. Memberikan analgetik








2
Kerusakan Integritas kulit
Tujuan jk. panjang :
1. Kaji kerusakan, ukuran
1. Mengetahui tingkatan/
21-11-2002  Jam 11.00
21-11-2002  Jam 13.30

sehubungan dgn reaktivitas
- Kulit kembali
    dan kedalaman warna
    derajat kerusakan dpt
1. Mengkaji kerusakan,
1. Luka masih

Virus herpes zoster ditandai :
  normal halus dan
    cairan setiap 4 jam
    Menentukan tindakan
    ukuran, kedalaman,
    berbentuk vesikel

DS : Klien mengeluh gatal
  tanpa meninggal
2. Berikan teknik septik
    yang harus dilakukan
    warna cairan
    berisi cairan

DO : Tampak vesikel berair di
  jan sikatrik
    dan aseptik
2. Untuk mencegah
2. Memberikan teknik
2. Suhu  tidak

daerah dada kanan & menjalar
Tujuan jk. pendek :
3. Gunakan kompres
    terjadinya infeksi lanjut
    septik dan aseptik dlm
    meningkat

ke punggung kanan
- 5 hari, 3 hari lesi
    basah
3. Kompres membantu
    memberikan kompres



  mulai pulih
4. Pantau suhu tiap 4 jam
    lesi kering dan
3. Memantau suhu tiap



- Area bebas
    dan laporkan ke dokter
    membersihkan kotoran
    4 jam



  diinteraksi lanjut
   jika ada peningkatan
4. Peningkatan suhu




- Kulit bersih dan

    membantu mengiden-




  kering

    tifikasi infeksi lanjut






    lajur-lajur kerusakan






    integritas semakin






    Bertambah










1
2
3
4
5
6
7







3
Resiko terhadap penularan
Tujuan jk. panjang :
1. Cuci tangan sebelum &
1. Mencegah terjadinya
21-11-2002  Jam 11.00


infeksi sehubungan dengan
- Penularan infeksi
    & sesudah melakukan
    Infeksi
1. Mencuci tangan


sifat-sifat alamiah virus
  tidak terjadi
    tindakan
2. Mencegah terjadinya
    sebelum dan sesudah


ditandai dengan :

2. Perhatikan teknik
    Perluasan
    melakukan tindakan


DO :
Tujuan jk. pendek :
    septik dan aseptik

2. Mempertahankan


- Klien berinteraksi dengan
- Keluarga tdk ada
3. Perhatikan jaringan

    jaringan sekitar lesi


  orang lain
  yang mengalami
    sekitar lesi

    dan membersihkan


- Terdapat vesikel berair di
  sakit yang sama
4. Perhatikan kebersihan

    lokal


  daerah dada kanan dan
- Organ lainnya
    lokal




  menjalar kepunggung kanan
  normal
5. Pemberian antibiotik




  atas

    untuk mencegah






    perluasan lesi atau






    infeksi
























3.4.   Catatan Perkembangan












BAB IV

PENUTUP



4.1.        KESIMPULAN
Herpes zoster merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisella zoster yag menyerang kulit dan mukosa. Infeksi ini merupakan reaktivitas virus yang terjadi setelah infeksi primer yang diikuti oleh kelompok vesikel di atas kulit dan lebih sering mengenai pada orang dewasa.
Perawatan herpes zoster dititik beratkan pada kebersihan diri, kebersihan lingkungan dan mencegah terjadinya penularan virus. Untuk klien yang dirawat di rumah keluarga harus memahami perawatan herpes zoster dengan mengikuti anjuran dan nasehat dokter serta perawat. Klien dengan herpes zoster harus disiplin dalam pengobatan dan perawatan untuk mencapai kesehatan

4.2.        SARAN
Penulis menyarankan dalam asuhan keperawatan kepada klien dengan herpes zoster harus mampu menerapkan teknik septik dan anseptik guna mencegah terjadinya infeksi rosokomial.
Masyarakat hendaknya lebih memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada selagi penyakit dapat diketahui sendiri dan ditanggulangi secepat mungkin guna mencapai kesehatan yang optimal.








DAFTAR PUSTAKA


1.            Carperito, Lynda Juall (1998), Diagnosa Keperawatan, Jakarta, EGC.
2.            Djuanda, Adhi (1999), Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Jakarta, EGC.
3.            FKPP, SPK (1999), Perawatan VC, Jakarta.
4.            Gayo,  Buku Pintar Kesehatan, Jakarta, Mawar Gempita.
5.            Geisseter Doerses (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.
6.            Mansoer Arif dkk. (2000), Kapita Selecta Kedokteran, Jakarta, EGC.
7.            Price Sylvia (1995), Patofisiologi, Jakarta, EGC.













Post a Comment