follow me for get something special from me

Wednesday, 10 September 2014

KTI karya tulis ilmiah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013



Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat
Dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri Di RSUD Sekarwangi
Kabupaten Sukabumi
Tahun 2013




 



KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
Ahli Madya Kesehatan Lingkungan



Oleh:
REZAL ADITHYA FIRDAUS
029K.A10.002





PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK KESEHATAN YAPKESBI
KOTA SUKABUMI
2013
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat
Dalam Penggunaan Alat Pelindung
Diri Di RSUD Sekarwangi
Kabupaten Sukabumi
Tahun 2013




 






Oleh:
REZAL ADITHYA FIRDAUS
029K.A10.002








PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK KESEHATAN YAPKESBI
KOTA SUKABUMI
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit merupakan upaya untuk memberikan jaminan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan para pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi. (Hariza 2011).
Pada hakikatnya kesehatan kerja merupakan penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja. Bila bahaya di lingkungan kerja tidak diantisipasi dengan baik akan menjadi beban tambahan bagi pekerjanya, di rumah sakit juga terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerjanya. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kondisi lingkungan kerja yang rawan penularan penyakit dan adanya peralatan-peralatan di rumah sakit yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan para pekerjaanya.
Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting guna kemajuan dan perkembangan suatu perusahaan atau rumah sakit. Oleh karena itu pemberdayaan tenaga kerja harus semaksimal mungkin, disamping dipacu untuk berproduksi namun juga harus didukung dengan upaya memberi perlindungan kepada tenaga kerja. Dampak lain yang timbul, akibat interaksi pekerjaan dan lingkungan tempat kerja dalam suatu perusahaan khususnya rumah sakit, yaitu dapat menimbulkan penyakit bagi pekerjaannya. Berbagai kemungkinan risiko penyakit akibat kerja tersebut serta upaya penanggulangannya, merupakan salah satu bentuk permasalahan aktual yang tumbuh dan berkembang mengiringi setiap kemajuan dan perkembangan industri (Suma’mur, 1993).
Menurut  data ILO setiap tahun di dunia terjadi 270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja, kematian 2,2 juta serta kerugian finansial sebesar 1,2 triliun USD. Di Indonesia menurut data PT. Jamsostek (Persero) dalam periode 2009, terdapat 22.338 kasus dari total 96.314 kasus di tahun 2009 untuk kecelakaan pada usia 26-30 tahun. Persisnya sebanyak 65.568 kasus dari 96.568 kasus selama tahun 2009 terjadi dilingkungan kerja/ lokasi kerja atau sebesar 68,07%. Kecelakaan kerja akibat dari kondisi berbahaya dan pengamanan yang tidak sempurna terjadi sebanyak 57.626 kasus kecelakaan atau sebesar 58,15% dari total kasus. Selain itu sebanyak 31.776 kasus kecelakaan kerja atau sebesar 32,06% dari total kasus dikarenakan akibat tindakan berbahaya tenaga kerja dengan mengambil posisi yang tidak aman.
Mengingat hal tersebut, maka perlu dilakukan upaya pencegahan, pengendalian kecelakaan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja dan menghindari risiko terjadinya kecelakaan kerja. Upaya yang efektif untuk mencegah kecelakaan kerja, yaitu dengan menanggulangi sumber bahaya yang ada (enginering control), mengatur jadual shift kerja dan waktu istirahat (administrative control), tetapi jika kedua hal tersebut tidak memungkinkan maka perlu penyediaan dan pemberian alat pelindung diri (APD) kepada tenaga kerja (ILO, 1993).
RSUD SEKARWANGI telah menyediakan alat pelindung diri (APD) kepada perawat yang bertugas di ruang rawat inap . Rumah sakit sebagai tempat RSUD SEKARWANGI , mengikuti ketentuan UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, petugas di rumah sakit merupakan kelompok masyarakat yang sangat berperan dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan nyaman sehingga mendukung pada upaya pencapaian standar pelayanan kesehatan.
Para petugas kesehatan, khususnya dalam hal ini dari perawat yang berjumlah 48 orang telah diberikan tugas untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik di ruang rawat inap. Mereka menjalankan tugas sebagai perawat dengan tiga (3) shift dalam setiap minggunya,. Masalah dalam kepatuhan menggunakan alat pelindung diri (APD), menjadi sebuah renungan dalam menjalankan tugas-tugas setiap harinya, karena berhubungan langsung dengan pasien di tempat mereka bertugas, yang berpotensi terhadap berbagai penyakit yang tanpa mereka sadari dengan dampak risiko suatu penyakit dikemudian hari.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui mengapa masih terdapatnya perawat yang dalam melaksanakan tugasnya tidak memakai alat pelindung diri (APD). Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi, Tahun 2013”.

B.       Perumusan Masalah
1.         Sejauhmana pengaruh tingkat pengetahuan dengan penggunaan alat pelindung diri ?
2.         Sejauhmana pengaruh sikap dengan penggunaan alat pelindung diri?
3.         Sejauhmana pengaruh penyediaan alat pelindung diri dengan penggunaan alat pelindung diri?

C.      Tujuan Penelitian
1.         Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perawat dalam penggunaan alat pelindung diri di Ruang UGD RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi, tahun 2013.

2.         Tujuan Khusus
a.         Diketahui pengaruh tingkat pengetahuan dengan penggunaan alat pelindung diri.
b.        Diketahui pengaruh sikap dengan penggunaan alat pelindung diri.
c.         Diketahui pengaruh penyediaan dengan penggunaan alat pelindung diri.

D.      Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dimulai pada bulan Juni – Juli 2013 di Ruang UGD RSUD SEKARWANGI.

E.       Kegunaan Penelitian
1.         Guna Teoritis
a.        Manfaat Bagi Mahasiswa
Dapat mengaplikasikan teori yang didapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan sehingga menambah pengetahuan dan pengalaman dalam proses pembelajaran.
b.        Manfaat Bagi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat YAPKESBI
Sebagai masukkan dalam mengembangkan keilmuan kesehatan dan keselamatan kerja.
2.         Guna Praktis
a.        Manfaat Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan digunakan dalam rangka meningkatkan upaya penggunaan alat pelindung diri oleh para perawat di tempat kerjanya yaitu ruang rawat inap sehingga dapat mencegah dan mengendalikan potensi bahaya yang ada secara tepat di tempat kerja.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Alat Pelindung Diri
1.         Pengertian
Alat pelindung diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin timbul. Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia mengatakan APD adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerjaan itu sendiri dan orang di sekelilingnya.
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Heatl Administration, Personal Protective Equipment atau alat pelindung diri (APD) dalam Nindiasa (2011,h.10) mendefinisikan APD adalah alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya.
Menurut Suma’mur P.K (1992), APD adalah suatu alat yang dipakai untuk melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja. Jadi APD adalah salah satu cara untuk mencegah kecelakaan, dan secara teknis APD tindaklah sempurna dapat melindungi tubuh akan tetapi dapat (Nindiasa, 2011, h.10).
Menurut Budiono A,M,dkk. (2003,h.329) APD adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungisebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi. Pengendalian ini sebaiknya tetap dipadukan dan sebagai pelengkap pengendalian teknis maupun pengendali administratif.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa APD adalah suatu alat yang digunakan untuk melindungi pekerja, baik sebagian maupun seluruh tubuh dari potensi terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Penggunaan alat pelindung diri saat bekerja bukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, akan tetapi hanya sekedar mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan.

2.         Persyaratan Alat Pelindung Diri
Menurut Suma’mur (2009), alat pelindung diri harus mempunyai beberapa kriteria agar memenuhi persyaratan dalam penyediaan yang antara lain :
a.         Alat pelindung harus dapat memberikan perlindungan efektif terhadap bahaya yang khusus, sebagaimana alat pelindung tersebut didisain,
b.        Enak dipakai pada kondisi pekerjaan yang sesuai dengan disain alat pelindung tersebut,
c.         Tidak mengganggu pada saat bekerja, dalam arti pelindung diri harus cocok dengan tubuh pemakainya dan tidak menyulitkan gerak penggunanya.

3.         Pedoman Pemilihan Alat Pelindung Diri
Tujuan dari pemilihan alat pelindung diri (OSHA, 2000) adalah :
a.         Mengetahui dengan baik potensi bahaya, jenis alat pelindung diri yang tersedia serta kegunaannya.
b.        Membandingkan bahaya yang ada di lingkungan kerja dengan   kemampuan alat pelindung diri yang tersedia.
c.         Memilih alat pelindung diri yang mempunyai tingkat perlindungan yang lebih besar untuk melindungi pekerja dari bahaya.
d.        Mengetahui penggunaan, pemeliharaan, serta keterbatasan dari alat pelindung diri yang digunakan.

4.         Jenis Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri, jenis atau macamnya beraneka macam. Jika digolongkan berdasarkan bagian-bagian tubuh yang dapat dilindungi, maka alat pelindung diri meliputi perlindungan terhadap :  kepala, mata, muka, tangan, dan jari, kaki, alat pernapasan, telinga, dan tubuh (OSHA, 2002).


a.        Alat Pelindung Kepala
Dalam program keselamatan alat pelindung kepala adalah salah satu faktor yang penting. Semua pelindung kepala dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap dampak potensi bahaya yang disebabkan oleh objek-objek yang jatuh. Pelindung kepala juga dapat memberikan perlindungan dari shock dan luka bakar karena listrik. Beberapa kelas dari alat pelindung kepala yang dapat memberikan perlindungan secara khusus menurut OSHA, antara lain:
1)        Kelas A, General service, untuk melindungi para pekerja yang bekerja di bagian pemintalan, konstruksi, perkapalan, manufaktur, dan lainnya.
2)        Kelas B, Utility service, untuk melindungi pekerja dari jatuhan benda, shock akibat listrik, dan lainnya.
3)        Kelas C, Special service, terbuat dari aluminium dan dilengkapi dengan lampu khusus yang dipakai dipertambangan, perminyakan, konstruksi dan lainnya.
Material yang dipakai untuk pembuatan helmet harus tahan air dan waktu terbakarnya lama. Selain pelindung kepala, tutup kepala (hairs quard) yang terbuat dari kain, dapat mencegah terjadinya kecelakaan khususnya pada pekerja wanita yang berambut panjang saat bekerja dengan mesin.

b.        Alat Pelindung Mata dan Muka
Alat ini dipakai oleh pekerja untuk melindungi agar pekerja tidak mengalami cidera pada mata dan muka karena bahaya yang ada di tempat kerja.
Macam alat pelindung mata dan muka meliputi, antara lain :
1)        Safety spectacles, yaitu terbuat dari metal atau palstik tanpa adanya pelindung samping. Jenis ini paling banyak digunakan.
2)        Impact-resistent spectacles, digunakan untuk perlindungan dari material yang dihasilkan dari proses grinding, perkayuan, dan penghalusan.
3)        Goggles, secara umum dipakai untuk melindungi mata dari percikan dan debu, dibuat khusus sesuai dengan jenis bahaya.
4)        Welding shield, terbuat dari fiberglass dan digunakan oleh pekerja pengelasan.
5)        Laser safety goggles, digunakan untuk perlindungan mata dari sinar laser.
6)        Face shield, untuk melindungi muka dan mata pekerja dari debu, percikan dan pancaran cairan kimia.
c.         Alat Pelindung Telinga
Pajanan kebisingan di tempat kerja yang melebihi nilai ambang batas  sebesar 85 dBA dapat menyebabkan gangguan pendengaran, stress, dan gangguan kenyamanan.
Alat pelindung telinga adalah merupakan alat pelindung diri untuk melindungi telinga ketika melakukan pekerjaan di tempat yang mempunyai intensitas kebisingan, yang mengganggu kenyamanan kerja bahkan merusak organ pendengaran.
Dari semua hal yang perlu dipertimbangkan, hal yang paling penting adalah memilih alat pelindung pendengaran yang nyaman digunakan oleh pekerja atau petugas. Alat pelindung telinga yang umumnya digunakan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1)        Sumbat telinga (ear plug)
Sumbat telinga mempunyai kemampuan menurunkan kebisingan 3-30 dBA. Cara pemakaiannya yaitu dengan memasukkan sumbat telinga pada saluran telinga luar dan dibuat untuk semua ukuran. Jenis sumbat telinga ada dua macam, yaitu: disposable (sekali pakai langsung buang) dan non-dispsable (dapat dipakai berulang kali). Sumbat telinga ini terbuat dari plastik, plastik foam, lilin, dan wol.
2)        Tutup telinga (ear muff)
Tutup telinga mempunyai kemampuan menurunkan kebisingan 20-40 dBA, sehingga daya lindung terhadap kebisingan lebih tinggi dari ear plug. Tutup telinga dapat digunakan oleh semua orang dengan ukuran telinga yang berbeda.
3)        Kombinasi antara sumbat telinga (ear plug) dan tutup telinga (ear muff)
Kombinasi ear plug dengan ear muff efektif dipakai untuk melindungi pekerja dari kebisingan sebesar 120-125 dBA.
d.        Alat Pelindung Pernapasan
Alat pelindung pernapasan adalah alat yang diperlukan oleh pekerja yang berada pada daerah kerja yang membahayakan pernapasan karena udara di tempat tersebut sudah terkontaminasi. Alat ini berfungsi untuk melindungi pernapasan pekerja dari bahaya zat yang bersifat toksik dan partikel-partikel yang berbahaya bagi saluran pernapasan, seperti : debu, kabut asap, uap, gas beracun, fumes, dan berfungsi untuk pemasok oksigen. Secara umum ada dua tipe dasar alat pelindung pernapasan, yaitu :
1)        Air purifying respirator
Yaitu alat pelindung pernapasan yang digunakan jika udara mengandung cukup oksigen tetapi terkontaminasi zat yang berbahaya. Air purifying respirator menggunakan replaceable filters (penyaring yang dapat diganti) untuk menyaring bahan-bahan berbahaya dan atau mengabsorbsi pencemaran udara.
2)        Breathing apparatus atau supplying respirator
Yaitu alat pelindung pernapasan yang digunakan jika tidak cukup oksigen (kurang dari 19,5 %), dan tingkat pencermarannya cukup tinggi untuk dipertimbangkan Immediately Dangerous of Life or Health (IDLH) atau jika air purifying respirators tidak efektif. Alat ini terdiri dari tabung oksigen dan mempunyai tutup muka yang dihubungkan dengan pipa penyalur oksigen.
e.         Alat Pelindung Tangan dan Lengan
Alat ini berfungsi sebagai pelindung tangan dan lengan dari cidera seperti terbakar. terpotong, tergores, patah dan pajanan kimia akibat proses di tempat kerja. Setiap pekerja harus mengetahui alat pelindung tangan dan lengan yang di butuhkan sesuai dengan karakteristik bahaya melalui prosedur tes standar. Alat pelindung tangan harus memungkinkan jari dan tangan dapat bergerak secara bebas. Harus dingat bahwa pemakaian sarung tangan pada saat bekerja dengan mesin bor, mesin kempa dan lainnya dapat berbahaya karena dapat tertangkap oleh putaran mesin. Sarung tangan dibuat dari material yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya, secara umum dibagi menjadi empat kelompok. yaitu :
1)        Terbuat dari metal mesh, kulit atau kanvas. Sarung tangan ini dipakai untuk melindungi pekerja dari panas, terbakar, terpotong dan suhu yang dingin.
2)        Terbuat dari tenun dan lapisan tenun. Sarung tangan ini di pakai untuk melindungi pekerja dari kotoran, teriris, luka, lecet. dan penanganan kimia di laboratorium.
3)        Terbuat dari karet (latex, nitrile, buty), plastik, dan karet sintesis. Sarung tangan ini digunakan untuk melindungi pekerja dari iritasi, dermatitis akibat zat kimia dan mengurangi risiko terinfeksi  cairan tubuh yang terkontaminasi sepcrti darah, urine dan sputum
4)        Terbuat dari karet penyekat, sarung tangan ini di pakai untuk melindungi pekerja dari solvent, asam peroksida. asam sulfur, asam nitrit, mencegah lecet tetapi dapat menimbulkan reaksi alergi pada individu tertentu.
f.         Alat Pelindung Kaki
Sepatu pengaman harus dapat melindungi pekerja terhadap kecelakaan yang disebabkan oleh barang berat yang jatuh keatas kaki, paku, logam cair. asam. Dan lainnya. Untuk benar-benar aman sepatu harus dilengkapi dengan ujung berlapis baja dan harus memakai alas baja didalam lapisan kulitnya terutama pada pekerja di proyek bangunan. Tetapi pada jenis pekerjaan yang lain, seperti tukang listrik maka harus mamakai sepatu yang tidak menghantarkan listrik (tidak mengandung logam) untuk mengurangi resiko dan dampak yang timbul sehubungan dengan pekerjaannya. Selain itu, untuk para pekerja yang bekerja di pabrik bahan peledak, sepatu pengaman yang digunakan harus sepatu yang tidak menimbulkan bunga api (tidak mengandung logam) untuk mencegah terjadinya ledakan.
g.        Alat Pelindung Tubuh
Sama seperti alat pelindung lainnya, pakaian pelindung berfungsi sebagai alat pelindung terhadap bahaya di tempat kerja sehingga mencegah terjadinya cidera pada bagian tubuh. Jenis alat pelindung tubuh terdiri dari apron, jaket, rompi, jubah bedah dan full body suits. Material yang dipakai untuk membuat pakaian pelindung bermacam-macam sesuai dengan kebutuhannya. Material yang di gunakan diantaranya, antara lain :
1)        Terbuat dari serat kertas, pakaian pelindung ini digunakan untuk melindungi dari debu dan percikan cairan tertent. Pakaian pelindung ini bersifat disposable.
2)        Terbuat dari wol dan katun, pakaian pelindung ini digunakan untuk melindungi pekerja dari debu, goresan, dan iritasi pada permukaan tubuh.
3)        Terbuat dari kain tenun. pakaian pelindung ini digunakan untuk melindungi pekerja dari akibat benda tajam (terpotong) dan tergores pada permukaan yang kasar.
4)        Terbuat dari kulit. pakaian pelindung ini digunakan untuk melindungi pekerja dari temperatur yang panas, dan dari nyala api.
5)        Terbuat dari karet dan plastik, pakaian pelindung ini digunakan untuk melindungi pekerja terhadap cairan kimia, cairan tubuh pasien, dan cairan lainnya.
B.       Faktor yang mempengaruhi penggunaan APD
1.         Pengetahuan
a.        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya, (mata, hidung, telinga dan sebagainya). (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat diperoleh melalui suatu proses belajar. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Sifat khas dari belajar yaitu memperoleh seuatu yang baru, yang dahulu belum ada sekarang diperoleh, yang dahulu belum diketahui sekarang diketahui, yang dahulu belum mengerti sekarang mengerti (Notoatmodjo, 2006).
b.        Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Menurut Notoatmodjo (2003) ada 6 tingkatan dalam pengetahuan, antara lain :
1)        Mengetahui (Know).
Mengetahui diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2)        Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpestasikan materi  tersebut secara benar.
3)        Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) yaitu dengan menggunakan hukum, rumus, metoda, prinsip dan situasi yang lain.
4)        Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini didapat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.
5)        Sintesis (Sinthesys).
Sintesis mengarah kepada suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6)        Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
c.         Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitataif, yaitu:
1)        Baik                        : Hasil presentase 76-100 %
2)        Cukup         : Hasil presentase 56-75 %
3)        Kurang        : Hasil presentase < 55%.
2.         Sikap
a.        Pengertian Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. (Notoatmodjo, 2003).
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. Yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2007).
Secord dan Backman mendefinisikan sikap sebagai ”keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek dilingkungannya (Azwar Saifudin, 2007).

b.        Tingkat Sikap Berdasarkan Intensitasnya
1)      Receiving (menerima)
Menerima diartikan bahwa seseorang/subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek)
2)      Responding (menanggapi)
Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi
3)      Vaking (menghargai)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus. Dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak, mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon.
4)      Responsible (bertanggung jawab)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adala bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya.

c.       Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembentukan Sikap Seseorang
1)      Adanya akumulasi pengalaman dari tanggapan-tanggapan tipe yang sama
2)      Pengamatan terhadap sikap lain yang berbeda. Seseorang dapat menentukan sikap pro atau anti terhadap gejala tertentu.
3)      Pengalaman (buruk atau baik) yang pernah dialami.
4)      Hasil peniruan terhadap sikap pihak lain.
(Sobur dan Alex, 2003).

d.      Fungsi Sikap
Menurut Etkinson (2004), fungsi sikap mempengaruhi tingkat konsistensi dalam memegang sikap dan tingkat kemudahan mengubahnya. Dalam hal ini ada 5 fungsi sikap, diantaranya:
1)      Kesediaan
Terjadinya proses yang disebut kesediaan adalah ketika individu bersedia menerima pengaruh dari orang lain karena ia berharap untuk memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain tersebut biasa tidak berasal dari hati kecil seseorang akan tetapi sekedar memperoleh reaksi positif atau pujian.
2)      Identifikasi
Proses identifikasi apabila individu meniru prilaku atau sikap seseorang atau sikap sekelompok lain dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang menyenangkan antara pihak dia dan orang lain.
3)      Internalisasi
Internalisasi terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang ia percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya. Sikap yang demikian biasanya merupakan sikap yang dipertahankan oleh individu.

3.         Pengertian Penyediaan APD
Cara terbaik untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan risikonya atau mengendalikan sumbernya seketat mungkin. Tetapi jika hal itu tidak mungkin, maka perusahaan wajib menyediakan alat pelindung diri (ILO, 1989).
Menurut OSHA (2000) alat pelindung diri harus tersedia jika :
a.         Adanya potensi bahaya pada lingkungan kerja terhadap tubuh pekerja.
b.        Adanya potensi bahaya pada proses kerja terhadap tubuh pekerja.
c.         Selama bekerja, adanya kemungkinan pekerja kontak dengan bahaya kimia, radiasi, mekanik dan bahaya lainnya.
d.        Pengendalian secara engineering, work practice, atau administrative controls tidak memadai.










BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A.      Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variable yang satu dengan variable yang lain dari masalah yang ingin diteliti. (Notoatmodjo, 2010)
Kerangka konsep mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013 adalah sebagai berikut :

Bagan 3.1
Kerangka Konsep
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Penggunaan
Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi
Tahun 2013

             Variabel Independen                                       Variabel Dependen
1.    Pengetahuan
2.    Sikap
3.    Penyediaan Alat Pelindung Diri
 
           


 






B.       Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Notoatmodjo, 2010)
Berdasarkan tujuan penelitian, kerangka konsep dan jenis data yang tersedia, maka hipotesis penelitian yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Hipotesis Nol
1.         Tidak Ada Pengaruh Pengetahuan Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013.
2.         Tidak Ada Pengaruh Sikap Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013.
3.         Tidak Ada Pengaruh Penyediaan Alat Pelindung Diri Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013.
Hipotesis Alternatif
1.         Ada Pengaruh Pengetahuan Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013
2.         Ada Pengaruh Sikap Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013
3.         Ada Pengaruh Penyediaan Alat Pelindung Diri Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi Tahun 2013
C.      Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Operasinal
Cara Ukur
Alat Ukur
Kategori
Skala
1.
Pengetahuan
Tingkat pemahaman (responden) tentang APD, meliputi: pengertian, kegunaan/ manfaat, waktu digunakan, peraturan, jenis, akibat/risiko, cara perawatan APD.
Memberikan pertanyaan dengan patokkan nilai:
-     baik, apabila  nilai  median.
-     Kurang, apabila nilai <  median.

Kuesioner
1.     Baik =
76-100%
Jawaban benar
2.     Cukup =
 57-75%
Jawaban benar
3.     Kurang <56% Jawaban benar

Ordinal
2.
Sikap
Merupakan reaksi/respons petugas perawat yang menyatakan setuju/tidak setuuju tentang APD.
Memberikan pertanyaan,  dengan menggunakan skala Likert :
Dengan patokkan nilai :
-     baik, apabila nilai benar ≥ median.
-     kurang, apabila nilai < median.
Kuesioner
1.     Baik =
76-100%
Jawaban benar
2.     Cukup =
 57-75%
Jawaban benar
3.    Kurang <56% Jawaban benar
Ordinal
4.
Penggunaan APD
Pemakaian alat pelindung diri dan penyediaan APD (masker per bulan sebanyak 30 dus, hand scoon 17 dua) oleh perawat selama melakukan   pekerjaan   di tempat kerja/ruangan.
Memberikan pertanyaan dengan menanyakan kepada petugas perawat dalam penggunaan APD.
-     Baik, apabila  nilai  median.
-     Kurang, apabila nilai <  median.
Kuesioner
1.Menggunakan  Apabila skor > median. Dengan skor 51-100%
2.Tidak menggunakan Apabila skor < median. Dengan skor 0- 50%
Nominal


BAB IV
METODE PENELITIAN

A.      Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan studi cross sectional. Data kuantitatif yaitu data yang berhubungan dengan angka-angka, baik yang diperoleh dari hasil pengukuran, maupun dari nilai suatu data yang diperoleh dari jalan mengubah data kualitatif kedalam data kuantitatif. Data kuantitatif sering dikaitkan dengan analisis statistik, sebab itu disebut data statistic.
Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

B.       Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. Definisi lain mengatakan bahwa variable adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu. (Notoatmodjo, 2010)

1.         Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat). (Notoatmodjo, 2010)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Faktor Pengetahuan, Sikap dan Penyediaan Alat Pelindung Diri.
2.         Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Variabel dependen adalah merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. (Notoatmodjo, 2010)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Penggunaan Alat Pelindung Diri Di Ruang UGD RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi tahun 2013.

C.      Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. (Notoatmodjo, 2010)
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. (Arikunto, 2010)
Populasi yang diamati peneliti dalam penelitian ini adalah Perawat yang ada di Ruang UGD RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi tahun 2013 yaitu sebanyak 20 responden.

2.      Sampel
Sampel adalah bagian dari populai yang dainggap mewakli populasinya. (Notoatmodjo, 2010)
Sampel adalah sebagian objek  yang diambil dari keseluruhan objek penelitian dan dianggap mewakili populasi. (Arikunto, 2010)
Menurut Arikunto, bila populasi kurang dari 100 orang, maka diambil keseluruhannya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika populasinya lebih dari 100 orang, maka dapat diambil 10-15 persen atau 20-25 persen sampel atau lebih.
Oleh karena itu, merujuk pada pernyataan diatas, dikarenakan populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 orang, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi atau total population sampling  yaitu sebanyak 20 responden.

D.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Insrumen penelitian ini dapat berupa kuesioner (daftar pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lainnya yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2010)
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dibacadan dijawab oleh responden peneliti. Alasan pemilihan metode ini berdasarkan pada pertimbangan waktu dan tenaga serta memberikan keleluasaan mengisi, sehingga responden tidak merasa terganggu apabila dibandingkan dengan wawancara.
Kuesioner atau instrumen dalam penelitian ini menggunakan instrumen dalam bentuk pertanyaan tertutup. Dan dalam penentuan skala menggunakan Skala bentuk pertanyaan tertutup (Closed Ended), dan hanya disediakan tiga alternatif jawaban.

E.       Metode Pengumpulan Data
1.         Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data menggunakan :
a.         Sumber primer: Sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.
b.        Sumber sekunder: Sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. (Alimul Aziz, 2007)
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer, dan sekunder.
Data primer dimana peneliti berbaur langsung dengan responden dalam pengisian kuesioner. Sebelum pengisian kuesioner, hal utama dilakukan adalah informed consent sebagai bukti persetujuan atas kesediaan responden.
Data sekunder merupakan data yang mendukung data primer yang meliputi data demografis. Sumber data sekunder diperoleh dari data Ruang UGD RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi tahun 2013.

F.       Uji Coba Kuesioner
Uji coba terhadap alat ukur dimaksudkan untuk memperoleh kesesuaian antara pertanyaan yang terdapat pada alat ukur dalam menunjang kriteria yang diharapkan dari penelitian.
1.        Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahan sesuatu instrument. (Alimul Aziz, 2007)
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. (Arikunto, 2010)
Uji validitas instrument menggunakan teknik korelasi “product moment” yang rumusnya sebagai berikut:
Keterangan:
x      : skors pertanyaan ke n (misalnya ke-1, ke-2, ke-3 dan seterusnya)
y      : skors total
xy    : skors total no x dikali skors total
N     : jumlah responden (Notoatmodjo, 2012 :1l6)
Item valid jika Koefisien Korelasi antara skor item dengan skor totalnya berharga ≥ 0,444. (24)

2.     Uji Reabilitas
Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas (ajeg) bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. (Alimul Aziz, 2007)
Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. (Notoatmodjo, 2010)
Pertanyaan yang sudah valid dilakukan uji realibilitas, dengan cara membandingkan r tabel dengan r hasil . jika nilai r hasil adalah alpha yang terletak diawal output dengan tingkat kemaknaan 5% (0.05) maka setiap pertanyaan/pernyataan kuesioner dikatakan valid, jika r alpha lebih besar dari konstanta (0.6), maka pertanyaan/pernyataan tersebut realibel.
Uji realibilaitas menggunakan rumus Alpha cronbach dengan rumus :
Keterangan :
k              :           Jumlah Instrumen pertanyaan
       :           Jumlah varians dari tiap instrumen
            :           Varians dari keseluruhan  instrument
Varians butir itu sendiri dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


 
Keterangan:
σi2 : Varians butir pertanyaan ke-n (misalnya ke-1, ke-2, dan   seterusnya)         
:  Jumlah skor jawaban subjek untuk butir pertanyaan ke-n.

G.      Pengolahan Data
         Dalam suatu pengolahan data merupakan salah satu langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa-apa, dan belum siap untuk disajikan. Untuk memperoleh penyajian data sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik, diperlukan pengolahan data. (Arikunto, 2010) 
Pada penelitian ini pengolahan data menggunakan langkah – langkah sebagai berikut:
1.         Editing
      Editing dilakukan untuk mengetahui apakah data sudah diisi dengan benar oleh responden. Pada tahap ini semua data diperiksa, sehingga apabila ada pertanyaan yang belum diisi dapat ditanyakan langsung kepada responden. Editing dilakukan di lapangan sehingga jika terjadi kekurangan atau kesalahan data dapat dengan mudah dilakukan perbaikan.
2.         Coding
          Yaitu memberi kode, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah waktu tabulasi dan analisa data. Dalam penelitian ini, kode tersebut berupa angka yang menunjukkan jawaban.
3.         Scoring
     Tahap ini meliputi nilai untuk masing-masing pertanyaan dan penjumlahan hasil scoring dari semua pertanyaan. Pertanyaan yang dijawab dengan benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0.
4.         Entry
     Data yang sudah diberi kode kemudian dimasukan ke dalam komputer adapun program yang digunakan adalah SPSS.
5.         Cleaning
     Merupakan kegiatan pengecekan  kembali data yang sudah dimasukan dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti.
6.         Tabulating
     Tabulasi data yang telah lengkap disusun sesuai dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukan kedalam tabel distribusi frekuensi. Setelah diperoleh hasil dengan cara perhitungan, kemudian nilai tersebut dimasukan ke dalam kategori nilai yang telah dibuat. (Arikunto, 2010) 
H.      Analisa Data
1.         Analisa Univariat
Analisis univariat dimaksudkan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi dari variabel-variabel yang diamati. Tujuan dari analisis ini adalah memaparkan secara sederhana sehingga dapat dibaca dan dianalisis secara sederhana. Data yang diperoleh dikumpulkan, tiap indikator. (Alimul Aziz, 2007)
Pengolahan data dilakukan dengan cara tabulasi, kemudian di tentukan persentasenya. Keuntungan menggunakan persentase sebagai alat untuk menyajikan informasi, pembaca laporan  penelitian akan mengetahui seberapa jauh sumbangan tiap-tiap bagian didalam keseluruhan konteks permasalahan yang sedang dibicarakan. (Alimul Aziz, 2007)
Adapun rumus persentase adalah :
P =
F
X 100%
N
Keterangan :
P     = Persentase
F     = Jumlah pertanyaan yang dijawab benar
N    =   jumlah frekuensi maksimal

Setelah diperoleh hasil dengan cara perhitungan seperti diuraikan diatas, kemudian nilai ini dimasukan ke dalam kriteria objektif sebagai berikut:

a.         Baik                   : Hasil persentase 76% - 100%
b.        Cukup                : Hasil persentase 56% - 75%
c.         Kurang               : Hasil persentase < 55% (Arikunto, 2010) 

2.         Analisa Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi. (Alimul Aziz, 2007)
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan uji statistic. Untuk menguji hubungan menggunakan rumus Chi-square.

Rumus uji Chi-square:
X2=
(fo-fe)2

Fe
Keterangan:
X2                   = Chi-square
fo                     = data atau frekuensi observatif
fe                     = data atau frekuensi expected (yang diharapkan)
Bila hasil analisa diperoleh nilai p<0,05 maka secara statistik disebut bermakna dan jika nilai p>0,05 maka hasil perhitungan disebut tidak bermakna. H0 diterima apabila Chi-square hitung lebih kecil dari table dan H0 ditolak apabila Chi-square hitung lebih besar atau sama dengan harga table. (Arikunto, 2010) 
Analisis bivariat dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi, Tahun 2013.

I.         Lokasi dan Waktu Penelitian
1.         Lokasi Penelitian
Lokasi yang dijadikan lahan penelitian ini di RSUD Sekarwangi Kabupaten Sukabumi, Tahun 2013.
2.         Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai dari bulan Juni-Juli 2013.

J.        Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitan, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. (Alimul Aziz, 2007)
Masalah  etika yang harus diperhatikan antara lain:
1.         Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan peneliti dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika responden bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peteliti harus menghormati hak pasien.
2.         Menghormati Martabat
Penelitian yang dilakukan harus menjunjung tinggi martabat seseorang (subjek penelitian). Dalam melakukan penelitian, hak asasi subjek harus dihargai.
3.         Asas Kemanfaatan.
Penelitian yang dilakukan harus mempertimbangkan manfaat dan resiko yang mungkin terjadi. Penelitian boleh dilakukan apabila manfaat yang diperoleh lebih besar daripada  resiko yang akan terjadi. Selain itu, penelitian yang dilakukan tidak boleh membahayakan dan harus menjaga kesejahteraan manusia.
4.         Berkeadilan.
Dalam melakukan penelitian, perlakuannya sama dalam artian setiap orang diberlakukan sama berdasar moral, martabat, dan hak asasi manusia. Hak dan kewajiban peneliti maupun subjek juga harus seimbang.
5.         Tanpa Nama (Anonimity)
     Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
6.         Kerahasiaan
     Masalah ini merupakan etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelti, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya.


 

Post a Comment