follow me for get something special from me

Tuesday, 9 September 2014

askep ashma bule


BAB I
PENDAHULUAN


A.           LATAR BELAKANG
Ashma Bronchiale ialah ISPA disebabkan beberapa faktor diantaranya oleh tekanan emosi, kerja fisik, alergi terhadap sesuatu, virus, bakteri dll. Ashma bronchiale dapat terbentuk oleh faktor ikstrinsik/alergi, intrinsik/non alergi, campuran
            Faktor ekstrinsik bisa terjadi karena inhalan yang masuk ke dalam tubuh melalui alat pernafasan, sedangkan intrinsik disebabkan karena adanya peradangan dan faktor campuran terjadi dari faktor ekstrinsik dan intrinsik. 
Pada ashma bronchiale apabila dalam keadaan emosi atau kerja fisik yang berat tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih sehingga untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen fungsi pernafasan harus bekerja dengan maximal, sehingga klien terjadi stress dan nafas terengah-engah karena ada gangguan pada system pernafasan.

B.           MAKSUD DAN TUJUAN
Penulis merasa tertarik untuk mengambil kasus ini adalah untuk membandingkan antara teori yang diberikan di bangku kuliah dengan pelaksanaan di lapangan dan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis sehingga memungkinkan bagi pihak yang membutuhkan. Adapun tujuannya adalah :
a.           Tujuan Umum
Untuk   mendapatkan   gambaran   secara umum tentang asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa ashma bronchiale.
b.        Tujuan Khusus       
1.         Pengkajian pada klien dengan ashma bronchiale
2.         Penegakan diagnosa keperawatan pada klien dengan ashma bronchiale
3.         Perencanaan tindakan pada klien ashma bronchiale
4.         Pelaksanaan tindakan perawatan pada klien ashma bronchiale
5.         Evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan
6.         Pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien ashma bronchiale

C.           RUANG LINGKUP
Pencegahan dan penanganan pada penyakit ashma bronchiale perlu disosialisasikan di setiap lapisan masyarakat dengan tujuan untuk mengurangi angka moralitas dan morbilitas di masyarakat dalam makalah ini akan diuraikan mengenai :
1.            Definisi ashma bronchiale
2.            Penyebab ashma bronchiale
3.            Diagnosa keperawatan pada ashma bronchiale
4.            Rencana tindakan
5.            Evaluasi

D.        METODE PENULISAN
Makalah ini penulis susun dengan menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu yang pertama penulis menjelaskan secara jelas dan sistematika mengenai ashma bronchiale sesuai dengan literatur yang penulis dapatkan, kedua penulis mengadakan  observasi lapangan dan wawancara sehingga pada akhirnya didapatkan suatu makalah asuhan keperawatan yang sistematik.








BAB II

TINJAUAN TEORITIS



A.        KONSEP DASAR

a.         Pengertian

Asthma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya obstruksi jalan nafas yang hilang secar spontan atau yang disebabkan oleh adanya spasme otot lunak,bronchial, scresi mukus yang berlebihan dan oedena yang berlebihan.
Asthma Bronchial adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang ditandai dengan meningkatnya respons trachea dan bronchi oleh berbagai rangsangan.
Asthma Bronchiae adalah suatu kondisi dimana bronchus sangat responsif terhadap stimulus dan bersifat reversibel.
Obstruksi jalan napas pada dasarnya ditentukan dengan suatu keseimbangan antara mekanisme fisiologi yang menstimuli kontriksi otot lunak dan yang mendorong relaksasi otot-otot lunak.
Kenaikan resistensi aliran udara pada batang traceobranchial yang terjadi pada asthma sebagai akibat spasme otot lunak. Ganguan resistensi tidak didistribusikan ke paru-paru yang mana menyebabkan penurunan PaO2 dan oksigen serta kenaikan FRC. FRC adalah kapasitas residu fungsional atau banyaknya udara yang tertinggal.
Karena kesulitan dalam mengeluarkan semua udara selama ekspirasi, paru-paru secara progresif menjadi hiperinflasi dan udara terjebak terhadap adanya sumbatan mukus udara ini direabsobsi oleh darah dan atelektasi berkembang.






Asthma Bronchiale

Hyperaktif Bronchus

Bronchus Spasme, Edema Mucosa, Sekresi

Lumen Menyempit






 
Meningkatkan Frekuensi Nafas













 


Kebutuhan O2                                                          IWL Melalui Pernapasan & Keringat
                                                             +          
Tachycardi                                    Intake Cairan

Kelelahan                                     Sekresi Kental
 

     Atelektasis

                                                         Hypoxemia

Penerapan kesehatan terhadap klien ISPA dibeberapa tempat masih bervariasi. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dalam memberikan  perawatan secara optimal. Salah satunya perawatan pada pasien dengan Ashma Bronchiale.
           

b.         Etiologi

            Ashma bronchiale adalah suatu ISPA yang disetuskan oleh beberapa faktor diantaranya oleh tekanan emosi, kerja fisik, alergi terhadap sesuatu, virus, bakteri, dll. Ashma bronchiale dapat terbentuk oleh faktor :

-          Ekstrinsik/alergi
-          Intrinsik / non alergi
-          Campuran

            Faktor ekstrinsik bisa terjadi karena inhalan yang masuk ke dalam tubuh melalui alat pernafasan (makanan, obat obatan, serpihan binatang dll.), sedangkan intrinsik disebabkan karena adanya peradangan. Faktor Campuran terjadi dari faktor ekstrinsk dan intrinsik.

c.         Patofisiologi

            Pada ashma bronchiale apabila dalam keadaan emosi atau kerja fisik yang berat tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih sehingga untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen, fungsi pernafasan harus bekerja dengan maximal, sehingga klien terjadi stress dan nafas terengah-engah karena ada gangguan pada system pernafasan.

B.           KONSEP DASAR KEPERAWATAN

   Serangan Asthma dapat terjadi secara progresif dalam beberapa hari atau secara tiba-tiba .
Tanda-tanda serangan adalah adanya peningkatan dyspnoe dengan ekspirasi panjang dan batuk, wheezing sering terjadi pada saat inspirasi dan ekspirasi. Wheezing yang terjadi pada jalan nafas besar di sebabkan adanya desakan udara melalui suatu jalan yang sempit dalam tekanan yang cukup untuk menghasilkan vibrasi udara yang menimbulkan bunyi. Gejala lain adalah :
1.             Pola nafas dispnoe
2.             Batuk dengan sputum yang banyak.
3.             Retaksi otot-otot strenal.
4.             Retaksi otot-otot perut.
5.             Ekspirasi memanjang.
6.             Wheezing, Ranchi.
7.             Kulit dingin, pucat dan cyanosis
8.             Pasien tampak cemas, ketakutan, gelisah karena sesak.
9.             Tanyakan kapan mulai serangan terjadi ? Apa penyebab serangan terjadi ?
10.          Apakah pernah mengalami serangan yang sama ? kapan terakhir ?.
11.          Riwayat penyakit dalam keluarga
12.          Riwayat alergi dan ISPA
13.          Analisa gas darah.

Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep di terapkan dalam praktik keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Iyer et ah, 1996). Tujuan proses keperawatan adalah untuk membuat suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan individu dari klien, kekuarga dan masyarakat dapat terpenuhi.

1.         Pengkajian
            Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (iyer et ah 1996)
      Pengumpulan Data (Pulta) :
1.     Tipe Data
Ada 2 tipe pada pengkajian
i  Data Subyektif
Adalah data yang di dapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.
i  Data obyektif
Adalah data yang dapat diobservasi dan di ukur (iyer et ah 1996). Contoh dat obyektif : frekuensi pernafasan, tekanan darah, edema dan berat badan.


2.     Karakteristik Data
Pengumpulan data klien memiliki karakteristik : lengkap, akurat, nyata, dan relevan.

Sumber Data
1.    Klien
2.    Orang terdekat
3.    Catatan Klien
4.    Riwayat Penyakit
5.    Konsultasi
6.    Hasil Pemeriksaan Diagnostik
7.    Catatn Medis dan Anggota tim kesehatan lainnya
8.    Perawat lain
9.    Kepustakaan

Diagnosa Keperawatan
Dari analisa dan hasil pengkajian di dapatkan masalah-masalah yang menyimpang sehingga dapat di diagnosa sebagai berikut :
a.     Pernapasan tidak efektif.
b.     Perubahan pola istirahat tidur
c.     Intoleransi aktivitas
d.     Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi

2.         Perencanaan dan pelaksanaan.
  Selama serangan atsma rencana perawatan di fokuskan pada upaya untuk membebaskan spasme bronchiale, mengencerkan sekresiyang kental, mengurangi hypoxia, arterial, mencegah infeksi, mengurangi rasa takut, memberi rasa nyaman.
1.     Mengurangi resistensi jalan nafas
Agent simpatometik seperti ephinerpin yang membuat aktifitas beta 2 adrenergik dan beta 2 diberikan secara subkutan atau dengan aeresol dosis sampai 0,1 sampai 0,5 ml. Therapi ini menyebabkan relaksi otot halus atau vaso kontriksi dalam selaput lendir bronchial, mengurangi kongesti, edema dan resistensi nafas.
2.     Membebaskan Spasme Bronchial
Bronchodilatator diberikan untuk mengurangi dan mencegah broncho kontriksi. Macam-macam obat bronchodilataor seperti iso proteronol, epedrin, Metaproteranol, Isoe tharin.
3.     Mengurangi edema pada selaput lendir Bronchial
Klorstikosteroid misalnya kortisan (hydro kortisan) solumenadrol diberikan secara intra vena.
4.     Mempertahankan hidrasi.
Pemasangan infus dapat berguna untuk memasukan obat serta dapat memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan dehidrasi karena klien mempunyai kecenderungan untuk hyperventilasi dan sebagai akibatnya terjadi kehilangan cairan.
5.     Mengurangi Hipoxemia Arterial
Therapi oksigen di berikan ntuk mencukupi kebutuhan oksigen pada paru.
6.     Mencegah Infeksi.
     Untuk mencegah infeksi di berikan anti biotik.
7.    Mengurangi rasa takut, dan memenuhi kebutuhan istirahat dan rasa nyaman
Klien diupayakan tetap nyaman dengan memberikan posisi flower atau semi flower, selama klien masih dalam perawatan, keluarga kliean juga diperhatikan, di berikan dorongan emosionaldan di beritahu tentang perkembangan klien.
Perawat harus memberikan dorongan ketenangan dan menenangkan sitiasi, pakaian basah segera di ganti.
8.     Memperhatikan keseimbangan nutrisi
Keseimbangan nutrisi di cukupi dengan pemberian makan dengan porsi kecil dan sering.
Makanan dalam porsi besar dihindari karena dapat meningkatkan distensi abdomen yang menyebabkan bernafas lebih sulit.

9.     Evaluasi
Evaluasi dilakukan dan diarahkan kepada / terhadap pencapaian tujuan dan efektifitas tindakan yang dilakukan.

3.         Evaluasi
Adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Tujuan evaluasi
Untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan.
Proses evaluasi
Proses evaluasi terdiri dari dua tahap :
1.    Mengukur pencapaian klien.
2.    Membandingkan data yang sudah terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan.














BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN NY.T DENGAN ASHMA BRONCHIALE
DI RUANG PERAWATAN VII RUMAH SAKIT DUSTIRA

 

 

A.      PENGKAJIAN

 I.      Identitas
         a.      Identitas Klien
         Nama                                 : Ny. T
         Umur                                  : 49 tahun
         Jenis kelamin                   : Perempuan
         Pendidikan                       : SMA
         Pekerjaan                         : Pegawai Negeri Sipil TNI-AD
         Agama                               : Islam
         Suku Bangsa                   : Jawa/Indonesia
         Status                                : Kawin
         Tanggal Masuk                : 21 November 2001
         Tanggal dikaji                   : 24 November 2001
         No Reg                              : 2496/XI/2001
         Alamat                               : Perumahan Puri Fajar Cibeber - Cimahi
         Diagnosa                          : Asma Bronchiale

II.            Riwayat Kesehatan Sekarang
1.           Alasan Masuk Rumah Sakit
Setengah jam SMRS klien sesak nafas (setelah satu minggu pulang dari perawatan di RS Dustira Rung Perawatan VII dengan diagnosa Angina Pectoris), setelah itu klien berobat ke Rumah Sakit Dustira dan langsung dirawat di Ruang Perawatan VII.


2.           Keluhan Utama Saat Didata
Klien mengeluh nyeri di daerah dada sebelah kiri, nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 4 (nyeri berat), nyeri bertambah apabila klien batuk dan nyeri dirasakan berkurang apabila klien tidur setengah duduk (semi fowler). Nyeri yang dirasakan menyebar ke daerah dada sebelah kanan dan nyeri berlangsung secara bertahap kurang lebih 5-8 menit setiap terserang.

III.            Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan bahwa sebelumnya klien pernah dirawat kurang lebih selama satu bulan di Ruang Perawatan VII Rumah Sakit Dustira dengan diagnosa Angina Pectoris.

IV.          Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan bahwa asma yang dideritanya diturunkan dari ibunya dan sekarang menurun kepada anak klien yang pertama

V.     Struktur Keluarga



















 


 
 








    

Keterangan :
                                     : Laki-laki
                                     : Perempuan
                                     : Klien
                                     : Hubungan keluarga
                                     : Hubungan perkawinan
                                     : Meninggal
                                     : Tinggal serumah  

Klien adalah anak ke-6 dari enam bersaudara. Klien menderita asma yang diturunkan oleh nenek dari ibunya dan kini menurun kepada anak pertamanya. Kini kllien tinggal bersama anak keduanya, menantu dan ke-3 cucunya.

VI.  Data Biologis

NO
POLA
DI RUMAH
DI RUMAH SAKIT
1














2














3





















4



















5

Nutrisi
a.    Makan
Jenis

Banyak
Frekuensi
Makanan pantangan
Keluhan

b.    Minum
Jenis
Jumlah
Frekuensi
Keluhan

Eliminasi
a.    BAB
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Bau
Keluhan

b.    BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Keluhan


Istirahat dan Tidur
a.    Siang
Kuantitas


Kualitas

Keluhan



b.    Malam
Kuantitas


Kualitas

Keluhan




Personal Hygene
a.    Mandi


b.    Gosok gigi

c.    Keramas






d.    Kebersihan kuku






Aktivitas


MB : Nasi, lauk pauk dan sayur
1 porsi makan habis
3 X perhari
tidak ada
T.a.k


Air putih
4-6 gelas perhari
5-6 X perhari
T.a.k



1x perhari
Lembek berbentuk
Kuning trengguli
Khas
T.a.k


3-6 xperhari
Kunung jernih
Khas
T.a.k




1-3 jam perhari
(10.00-13.00)

Tidur lelap

T.a.k




7-8 gelas perhari
(21.00-05.00)

Tidur terlelap tanpa terbangun
T.a.k





2 x/hari dengan memakai sabun

2 x/hari dengan memakai pasta gigi
3-4 x/minggu dengan memakai shampo





1 x dalam seminggu






Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan peran dan fungsinya walaupun kualitasnya sudah menurun sehubungan dengan usianya yang sudah tua





ML:Bubur nasi,telur

½ porsi makan
3x perhari
tidak ada
T.a.k


Air putih
4-6 gelas perhari
5-6 x perhari
T.a.k



1x perhari
Lembek berbentuk
Kuning trengguli
Khas
T.a.k


3-6 x perhari
Kunung jernih
Khas
T.a.k




1-4 jam/hari
(10.00-12.00,13.00-14.00)
Tidur lelap walaupun tak lama
Sering terbangun sesuai dengan nyeri dada dan sesak


4-6 jam /hari
(22.00-24.00,01.00-03.00)
Tidur lelap walau sering terbangun
Tidur sering terbangun sesuai dengan nyeri dada karena sesak dan batuk

2x /hari diseka dengan memakai sabun
1-2 x/hari dengan memakai pasta gigi
Belum pernah selama masuk rumah sakit tapi sehari sebelum masuk rumah sakit klien sebelumnya keramas dengan memakai shampo
Belum pernah selama di rumah sakit



Di rumah sakit klien Bedrest sehingga tidak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan peran dan funsinya sebagaimana mestinya sehubungan dengan rasa sakit dan sesak yang klien rasakan

VII.      Pemeriksaan Fisik
1.       Keadaan umum
                 Kesadaran        :  Composmentis
Klien tampak lemah dan wajah klien tampak meringis menahan rasa nyeri
                 Tanda-tanda vital      
                 TD    : 140/80 mmHg               
                 R       : 20 x/menit
                 S       : 36 °C                              
                 N       : 84 x/mnt

2          Sistem integumen
-           Turgor kulit baik dan tidak menurun
-           Tektur kulit lembut dan tdak bersisik

3.        Sistem penglihatan
-           Bentuk dan ukuran mata simetris
-           Konjungtiva menurun berwarna merah dan tidak terdapat nyeri tekan pada kelopak mata
-           Sklera berwarana putih dan jernih (Tidak ikterik)
-           Reflek pupil positif, terhadap cahaya, bentuk dan ukuran simetris
-           Reflek kornea positif, isokor gerakan bola mata mampu melirik kesamping kiri, kanan, atas dan bawah
-           Kornea berwarena licin dan transfaran
-           Lapang pandang baik tidak menurun
-           Terdapat lingkaran hitan di sekitar kelopak mata

4.        Sistem pencernaan
-        Mulut dan kerongkongan
¨             Inspeksi
-        Bibir berwarna merah muda dan lembab
-        Mucosa mulut lembab,tidak ada stomatitis
-        Warna gusi merah muda tidak terdapat stomatitis, tidak terdapat    perdarahan.
-        Lidah berwarna merah muda
-        Warna gigi putih kekuning-kuningan, tampak bersih dengan jumlah gigi 26 buah tidak ada caries.          
¨             Palpasi
-           Reflek menelan baik
-           Tidak terdapat nyeri tekan
-        Abdomen
¨      Inspeksi          :     Bentuk abdomen datar dan lembut berwarna coklat muda
¨      Palpasi            :     Hepar tidak teraba membesar, limpa tidak teraba membesar dan tidak terdapat nyeri tekan
¨      Perkusi           :     -Bunyi timpani diatas lambung dan usus
                                         -Distensi :Kandung kemih
¨      Auskultasi      :     Terdapat bunyi bising usus ± 10 x/menit




5.           Sistem Pernapasan
¨      Inspeksi :
-        Hidung simetris dan tampak kokoh, berwarna coklat muda
-        Terdapat pernapasan cuping hidung
-        Tidak terdapat pengeluaran sekret pada hidung dan tidak terdapat nodul
-        Sinus frontalis dan maksilaris tidak terdapat kemerahan
-        Trakhea simetris posisi ditengah
-        Dada simetris dan terdapat retraksi dinding dada
¨      Palpasi :
-        Tidak terdapat nyeri tekan pada hidung, sinus frontalis maupun maksilaris
-        Terdapat nyeri tekan pada dinding dada
-        Ekspansi paru simetris
-        Vokal premitus : vibrasi meningkat pada jalur napas utama dan menurun pada jalur napas terakhir
¨      Perkusi :Terdapat bunyi resonan pada permukaan paru
¨      Auskultasi :
-        Trakhea:Bunyi napas vesikuler
-        Ronchi +/+ , Whezing +/+ pada dada

6.           Sistem Kardiovaskuler
¨      Inspeksi :
         Tidak ada lesi pada leher,nodul maupun masa, bentuk simetris, JVP meningkat,trakhea ditengah, tidak ada varises dan plebitis
¨      Palpasi :
         Jantung tidak terdapat nyeri tekan dan akral teraba dingin
¨      Auskultasi :
         -             Bunyi jantung bunyi murmur
         -             Denyut jantung 85 x permenit
7.           Sistem Genito Urinaria
¨      Palpasi :
                            Ginjal : Tidak teraba membesar,tidak ada nyeri tekan dan tidak ada nyeri saat perkusi 
Bladder : Teraba kosong dan tidak terdapat nyeri tekan
¨      Perkusi : Terdapat bunyidalness pada kandung kemih

8.           Sistem Muskuloskleletal
-        Ekstremitas atas
 ROM :Mampu fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi
Kekuatan otot :Tangan kanan dan kiri klien mampu mengangkat dan dapat menahan tekanan dari perawat (skala +5)          
-         Ekstremitas bawah
ROM :Mampu fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotaso, inversi dan eversi
Kekuatan otot :Kaki kanan dan kiri klien mampu bergerak
Tonus otot :Kekuatan tidak ada hipotony maupun hipertony 

VIII.      Aspek Psikologis
1.        Status Emosi
Ekspresi wajah klien tampak murung,namun klien dapat menerima keadaan penyakitnya dengan harapan klien dapat sembuh sehingga klien dapat berkumpul lagi bersama keluarga
2.        Konsep Diri
a.    Body Image
Klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya tidak berpengaruh terhadap body image ataupun penampilannya
b.   Harga Diri
Klien mengatakan bahwa dirinya tidak merasa minder saat kerabatnya menjanguk klien ataupun terhadap orang lain
c.   Ideal Diri
Klien mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan apa-apa,klien     hanya berharap supaya ia bisa sembuh seperti semula
d.   Peran
Klien mengatakan bahwa kegiatannya sehari-hari sudah tidak dapat dilakukannya lagi
e.   Identitas Diri
Klien mengatakan bahwa dirinya adalah anak terakhir dari enam bersaudara, dan kini klien tinggal bersama anak keduanya, menantu, dan tiga orang cucunya
3.        Koping Mekanisme
Dalam menyelesaikan masalahnya klien lebih terbuka kepada anak-anaknya sendiri,karena klien merasa hanya anak-anaknya yang mampu mendengarkan dan membantu menyelesaikan masalahnya

IX.       Aspek Sosial
1.           Gaya Komunikasi
Dalam berkomunikasi klien selalu menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa verbal dan klien cukup terbuka mengungkapkan perasaannya serta mampu menerima masukan dari orang lain
2.           Pola Interaksi
Klien mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang alin yang ada disekitarnya

X.         Aspek Spiritual
Klien adalah seorang penganut agama islam yang selalu berusaha menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya walau dalam keadaan sakit sekalipun


XI.        Data Sosial
Pendidikan               : SMA
Pekerjaan                 : Pegawai Negeri Sipil TNI-AD
Hubungan keluarga           : Dapat berinteraksi dengan baik
Sosio Kultural          : Jawa
Gaya Hidup              : Sederhana

XII.       Data Penunjang
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Interpretasi
1












2
Kimia Darah
SGOT/PT

Globulin
Albumin
Alkali Phopalase
Urea N
Kreatinin
Asam Urat
Kolesterol
LED


Hasil Urine
Warna
Leukosit
Epitel
Protein
Eritrosit
Bakteri


11,7 U/I

5,0 gr/dl
3,0 gr/dl
59 U/I
11 mg/dl
0,9 mg
3,7 mg/dl
242 mg/dl
80/125



Kuning jernih
Penuh
2-5
+
8-13
+

15-30/10-55 U/I
7-18 mg/dl
0,7-1 mg/dl
2,2-900 mg/dl

0-15






Kuning jernih
-
-
-
-
-


Infeksi /peradangan




Normal
Normal
Normal





Terkena infeksi/adanya infeksi berat


XIII.      Therapi
1.      Ventolin Nebu            1 amp
2.      Aminophylin               500 mg per oral
3.      Kalmethason              3x2 amp (IM)
4.      OBH                              3x1
5.      Amoxillin                      3x 500 mg
6.      Glibenclamid               ½-0-1/2
7.      Salbutamol                  3x 500 mg



         
ANALISA DATA

Nama                                     : Ny.T
R.Perawatan : VII

NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1













2

















3








4

DS:
-Klien mengatakan bahwa dirinya sangat sesak untuk bernapas
-Keluarga klien mengatakan bahwa klien mempunyai riwayat asma
DO:
-Frekuensi napas cepat (R:24x/menit)
-Ronchi +/+, Wheezing +/+
-Terdapat retraksi dinding dada
-Klien tampak batuk

DS:
Klien mengatakan sering terbangun /jumlah jam tidur klien berkurang karena sesak dan batuk
DO :
-Frekuensi napas ³ normal (R:85 x/menit)
-Klien tampak batuk-batuk
-Terdapat lingkaran hitam disekitar kelopak mata







DS:
Klien mengatakan bahwa aktivitasnya terganggu
DO:
-Klien bedrest
-Klien tidak dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri


DS:
Klien mengatakan bahwa dirinya telah pulang dari perawatan sebulan yang lalu (dirawat di RS Dustira RP.VII)
DO:
Klien dirawat kembali di RP.VII
Dampak vasokontriksi bronchus
¯
Penurunan kemampuan respirasi
¯
Penumpukan sekrat di bronchus







Peningkatan frekuensi nafas disertai batuk
¯
Merangsang susunan saraf otonom untuk mengaktivasi norepinephrine
¯
Saraf simpatis terangsang untuk mengaktifkan kerja organ tubuh
¯
REM menurun
¯
Klien terjaga


Klien bedrest
¯
Mobilisasi terbatas
¯
Aktivitas terganggu


Ketidaktahuan klien terhadap proses perawatan dirumah
¯
Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi
Tidak epektifnya jalan napas












Perubahan pola istirahat tidur














Intoleransi aktivitas






Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi



DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS MASA
1.         Tidak efektifnya jalur nafas berhubungan dengan adanya penumpukan sekret dibroncus.
2.         Perubahan pola istirahat, tidur berhubungan dengan meningkatnya fekuensi nafas yang disertai batuk.
3.         Intolerasi aktifitas berhubungan dengan klien bedrest.
4.         Resiko terhadap penatalaksanaan program therapetutik infeksi berhubungan dengan tidak tahanan klien terhadap proses perawatan dirumah.

















DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


Nama Klien               : Ny. T
R. Perawatan            : VII

NO
DIAGNOSA KEPRAWATAN
TANGGAL DITEMUKAN
TANGGAL DIATAS
TTD
1.


2.



3.

4.
Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan adanya penumpukan sekret di bronchus.
Perubahan pola istirahat, tidur berhubungan dengan meningkatnya frekuensi nafas yang disertai batuk.
Intileransi aktifitas berhubungan dengan klien bedrest.
Resiko terhadap penatalaksanaan therapeutik infeksi berhubungan dengan ketidak tahuan klien terhadap proses perawatan di ruamah.
24-11-01


24-11-01



24-11-01

24-11-01
25-11-01


25-11-01



25-11-01












B.        PERENCANAAN

 

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Nama klien                : NY.T

R.Perawatan             : VII


NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERPENSI
RASIONAL
TTD
1.









































2.























3.



















4.
Tidak efektifmya jalan pernafasan berhubungan dengan adanya penumpukan sekret di bronchus yang di tandai dgn :
DS :
Klien mengatakan bhwa dirinya seak untuk bernafas dan keluarga klien mengatakan mepunyai riwayat asma.
DO :
-       Frekuensi nafas cepat (R : 24x /menit)
-       Suara penafasan rendah. +/+ wheezing +/+
-       Retraksi dinding dada (+)
-       Klien batuk.












Perubahan pada istirahat, tidur berhubungan dengan meningkatnya frekuensi nafas yang disertai dengan batuk ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan sering terbangun karena sesak nafas dan batuk.
DO :
-     Frekuensi nafas lebih dari normal (R : 85x/ menit)
-     Klien tampak batuk
-     Terdapat lingkaran hitam disekitar mata

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan klie bedrest yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan aktifitasnya terganggu
DO :
-     Klien bedrest
-     Klien tidak bisa melakukan aktifitas secara mandiri.








Resiko terhadap penatalaksanaan infeksi yang ditandai dengan:
DS :
Klien mengatakan bahwa dirinya sebulan yang tak pulang di R.VII
DO :
Klien masuk Ruang Perawatan VII 

Tidak efektifnya jalan nafas teratasi dengan kriteria :
-     Frekunsi nafas (N) (R = 20 x/menit)
-     Suara pernafasan
-     Ponehi  -/-, wheezing -/-
-     Retraksi dinding dada (-) ingkar panjang: Tolak efektifitasnya jalan nafas teraksi sepenuhnya dalam jangka eaktu + 1 minggu.



















Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat-tidur teratasi dengan kriteria :
Jamgka pendek :
-  Frekuensi nafas normal.
- Batuk (-)
- Lingkaran hitam (-)
Jangka panjang gangguan aktifitas teratasi sepenuhnya dalam jangka waktu + 1-2 hari





Gangguan aktifitas dapat teratasi dengan kretaria jangka pendek :
-   Klien sudah tidak bedrest
-   Klien dapat melaksanakan aktifitasnya secara mandiri
Jangka panjang :
Gangguan aktifitas teratasi sepenuhnya dalam jangka waktu + 5-7 hari .

Resiko terhadap penatalaksanaan program terapetik teratasi dengan kriteria :
Jangka pendek dan jangka panjang klien mengetahui tentang penatalaksanaan program terapetik infeksi dalam jangka waktu + 1-7 hari.
1.     Atur posisi semifouler.
2.     Obs. TTV






3.     Anjurkan fs nafas dalam dan batuk efektif.






4.     Anjurkan (K) mengurusi aktifitas berlebih.











5.     Beri theraphi nebulizer.



1.     Ciptakan suasana lingkungan ruang perawatan yang tenang dan nyaman

2.     Batasi pengunjung dan penunggu klien.










1.     Anjurkan klien melakukan latihan positif
2.     Beri dorongan atau semangat secara terus menerus
3.     Bantu aktifitas klien sesuai dengan kemampuannya

1. Jelaskan tentang penata laksanaan atau perawatan diri selama di RS atau di Rumah.

1.     Melancarkan jalan nafas.
2.     Deteksi dini terhadap perubahan kondisi klien terutama frekuensi nafas.
3.     Nafas dapat memudahkan ekspansi maksimum paru-paru jalan nfas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme membersihkan jalan nfas alami.
4.     Aktifitas berlebih dapat menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah pada jantung sehingga terjadi penumpukan suplai O2 kejantung yang  akhirnya dapat meningkatkan  fremasi nafas.
5.     Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret

1.     Dengan suasana yang tenang  klien dapat tenang sehingga dapat beristirahat dengan nyaman

2.     Pengunjung atau penunggu yang terlalu banyak menyebabkan ruangan menjadi sempit sehingga dapat menyebabkan terjadinya perebutan O2.




1.      Dapat melatih pergerakan otot.


2.      Terdorong mencoba untuk melakukan aktifitas ringan



3.      Memotifasi untuk beraktifitas secara mandiri.




1. Klien dapat mengerti dan memahami tentang penatalaksanaan perawatan diri baik dirumah maupun dirumah sakit.
 




















C.        IMPLEMENTASI


Nama                         : Ny.T
R. Perawatan            : VII

No
Tanggal dan Jam
Tindakan dan Evaluasi
TT/Nama
1.


























2.






















3.
24 November 2001
14.00



14.15



14.30




14.40



14.45


16.30


18.00


25 November  2001
14.00

14.30



15.00






16.30

17.00



18.00


26 November  2001
14.30



16.30

15.00


18.00

19.00

19.10



-Memberikan terapi nebulizer (ventolin 1 amp )
 Hasil : Sesak klien agak sedikit berkurang
-Mengatur posisi semi fowler dan memberikan latihan napas dalam  dan batuk epektif
Hasil :Sesak klien agak sedikit berkurang
-Mengobservasi TTV
Hasil : T:140/80 mmHg
            N :84 x/menit
            S ; 36 °C
            R : 21 x/menit
-Mengajarkan klien latihan pasif
Hasil : Klien agak sedikit menggerak-gerakan atau melakukan mobilisasi terbatas
-Mengatur posisi tidur klien senyaman mungkin
Hasil :Klien masih susah untuk tidur
-Memberi klien makan ML
Hasil : ½ porsi makan habis

-Memberi suntikan kalmethason (iv)3x2 amp


-Memberikan nebulizer (ventolin 1 amp )
Hasil : Klien tampak sudah tidak sesak
-Mengobservasi TTV
Hasil :
T:120/80 mmHg    R:20x/menit
N:80x/menit           S:36°C
-Mengajarkan klien latihan pasif dan mengatur posisi tidur klien senyaman mungkin
Hasil :Klien bisa menggerakan anggota tubuhnya walaupun secara terbatas dan dapat tidur walaupun sebentar
-Memberi makan ML
Hasil :Habis ½ porsi
-Memberi dorongan /semangat demi kesembuhan klien
Hasil : Klien mengerti dan memahami betapa pentingnya kesehatan
-Memberi suntikan kalmethason (3x2 amp ) iv


-Mengobservasi TTV
Hasil :
 T:120/80 mmHg    S :36°C
  N:80 x/menit         R:20x/menit
-Memberi makan kepada klien (ML)
Hasil :1 porsi makan habis
-Mengatur posisi tidur klien senyaman mungkin
Hasil : Klien dapat tidur
-Memberikan nebu ventolin1 amp
Hasil :Klien sudah tidak sesak lagi
-Memberikan suntikan kalmethasoniv (1 amp)
-Membantu klien turun dari tempat tidur
Hasil :Setelah dibantu klien dapat turun sendiri tanpa bantuan perawat ataupun keluarga 





BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


A.           KESIMPULAN
Berdasarkan pengkajian studi kasus yang telah penulis lakukan, maka dapat diuraikan kesimpulannya sebagai berikut :
Diharapkan mahasiswa sebelum melakukan proses asuhan keperawatan, pendalaman teori diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien sehingga akan memudahkan dalam melakukan semua kegiatannya.
1.             Pengkajian
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan oleh perawat maka didapatkan masalah-masalah keperawatan yang muncul pada klien Asthma Bronchiale yaitu : Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan adanyan penumpukan sekret dibronchus,Perubahan pola istirahat ; tidur berhubungan dengan meningkatnya frekuensi napas yang disertai batuk, Intoleransi aktivitasberhubungan dengan klien bedrest, Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi berhubungan dengan ketidak tahuan klien terhadap proses perawatan di rumah .
2.             Perencanaan
Dalam perencanaan asuhan keperawatan diperlukan data yang akurat mengenai kondisi klien, lingkungan, dan keluarga. Hal ini untuk memudahkan tindakan keperawatan.
3.             Pelaksanaan
Setiap tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan  intervensi yang telah ditetapkan oleh perawat
4.             Evaluasi
Berdasarkan tindakan keperawatan yang telah dilakukan, maka didapatkan tidak efektifnya jalan nafas teratasi sepenuhnya, gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur teratasi sepenuhnya dan gangguan aktivitas teratasi sebagian
B.           SARAN
Untuk dapat melaksanakan asuhan keperawatan dengan meningkatkan kualitas keperawatan serta kualitas profesional keperawatan yang lebih baik, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut :
  1. Untuk Rumah Sakit
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang baik akan meningkatkan mutu pelayanan, hal tersebut perlu ditunjang dengan tersedianya alat, tenaga kesehatan yang profesional.
  1. Untuk Keluarga
      Diperlukan kerja sama yang baik antara perawat dengan keluarga klien, dalam hal ini keluarga diharapkan dapat memantau perkembangan klien selama dirawat dan menyediakan lingkungan  yang terapeutik ketika klien telah berada di rumah.
  1. Untuk Mahasiswa
Penulis berharap sebelum melaksanakan praktek keperawatan khususnya di ruangan, perlu kesiapan dalam segala hal seperti kesiapan dalam teori dan keterampilan dalam berkomunikasi. Dalam hal ini proses belajarpun harus teus ditingkatkan baik didalam kampus maupun di luar kampus.














DAFTAR PUSTAKA



1.            Arief Mansjoer, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius : FKUI,  Jakarta.

2.            Haznams Kompedium, 1992, Diagnostik dan Terapi Ilmu Pengetahuan, WB Haznams : Bandung.

3.            Marylin E Dongoes, 1992, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi Tiga, FKUI, Jakarta : EGC.

4.            FKPP, 1996, Perawatan Pasien V-A, Bandung.

5.            Price Sylvia Anderson, dkk., 1995,  Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi Empat, Jakarta : EGC.
Post a Comment