follow me for get something special from me

Wednesday, 10 September 2014

laporan pendahuluan dan askep stroke



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia. Serangan otak ini merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat dan cermat.
            Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresi epat berupa defisit neurologis fokal / global yang berlangsung 24 jam/lebih/langsung menimbulkan kematian dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Bila gangguan peredaran darah otak ini berlangsung sementara. Beberapa detik hingga beberapa jam (1o-20 menit) tapi kurang dari 24 jam disebut sebagai serannga iskemia otak sepintas ( transient ischaemia attack = TIA )
B.     Tujuan
1.      untuk mengetahui pengertian stroke
2.      untuk mengetahui etiologi stroke
3.      untuk mengetahui patofisiologi stroke
4.      untuk mengetahui tanda dan gejala stroke
5.      untuk mengetahui masalah keperawatan stroke
6.      untuk mengetahui asuhan keperawatan stroke






















BAB II
TINJAUAN TEORITIK

A      Pengertian
·         Stroke hemoragik adalah kondisi yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah otak akibat tekanan yang tinggi atau aneurisma yang pecah. (Arif Mansjoer, 2000)
·         Stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. (Brunner dan Suddarth, 2002)

B       Etiologi
1.      Infark otak (80%)
ªemboli kardiogenik, emboli para doksal, emboli arkus aorta
ªatero trombotik seperti penyakit ekstrakranial, penyakit intrakranial
2.      Perdarahan intraserebral
      seperti : hipertensi, mal formasi arteri-vena, angiopati amiloid
3.      Perdarahan subaraknoid
4.      Penyebab lain
      Trombosis sinus dura, diseksi arteri karotis/vertebralis, vaskulitis sistem saraf pusat, penyakit moya-moya, migren, kondisi hiperkoagulasi, penyalahgunaan obat, kelainan hematologist, miksoma atrium.

C       Patofisiologi
Kondisi hipertensi dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah sehingga suplai dan kebutuhan O2 berkurang dan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial. Sebagai akibatnya, terjadi perubahan perfusi jaringan serebral yang akhirnya menyebabkan nekrosis jaringan otak kemudian terjadi deficit kolateral motorikdan sensorik. Selanjutnya terjadi kelemahan fisik dapat menyebabkan kerusakan mobilitas fisik dan deficit perawatan diri. Nekrosis jaringan otak terjadi kerusakan sirkkulasi serebral sehingga mengakibatkan kerusakan komunikasi verbal. Dari peningkatan TIK akan terjadi pecah pembuluh darah sehingga terjadi rembesan darah diluar durameter, dibawah durameter , di ruang sub arachnoid, dalam jaringan otak, ventrikel otak kemudian terjadi penekanan pergeseran dan pemisahan jaringn otak sehingga terjadi infark otak, edema dan herniasi otak. Keadaan seperti ini disebut sebagai stroke hemoragik.    











D      Pohon Masalah  
           

                                                                                                            defisit perawatan diri

                                                Kerusakan mobilitas fisik
                                                                                           infark otak, edema, herniasi otak
Kerusakan komunikasi verbal         kelemahan fisik  
                                                                                                     penekanan pergeseran
                                                                                                 &pemisahan jaringan otak
Kerusakan sirkulasi serebral    defisit kolateral motorik         
                                                            &sensorik        Rembesan darah di luar dandi bawah
                                                                                    durameter, di ruang sub araknoid,                                                                  Nekrosis jaringan otak          dalam jaringan otak dan
                                                                                                        ventrikel otak
                                           
                                    perubahan perfusi jaringan serebral        pecahnya pembuluh darah

                                                          peningkatan TIK                                                                                                                                  
                                                                 stroke
                                                                                                      
                                          suplai dan kebutuhan O2 berkurang

                                                vasokontriksi pembuluh darah

                                                              hipertensi
E       Manifestasi Klinis
Stroke menyebabkan berbagai deficit neurologis tergantung lokasi lesi (pembuluh darahmana yang terkena), luas area perfusi yang tidak adekuat dan jumlah aliran darah kolateral sehingga fungsi otak yang rusak tidak dapat sembuh sepenuhnya. Seperti kehilangan motorik, kehilangan bahasa dan komunikasi, gangguan persepsi, ketidakmampuan menginterpretasikan sensasi, kerusakan fungsi kognitif an efek psikologis terutama pada lobus frontal disfungsi kandung kemih.

F        Pemeriksaan Diagnostik
1.      CT Scan : fungsi melihat daerah yang terjadi infark dan dapat membandingkan serebrofaskuler dan lesi non vaskuler
2.      MRI : Membantu membandingkan diagnosa srtoke
3.      Ultrasonografi atau Doppler membantu mendiagnosa sumbatan arteri
4.      EKG : Menentukan adanya distritmia yang dapat menyebabkan srtoke



G      Penatalaksanaan
Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi diuretic untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral. Antikoagualn dapat diresepkan untuk menegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler. Medikasi anti trombosis dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.

H      Komplikasi
Stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah, dan luasnya area cedera, embolisme serebral.

































ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. L  DENGAN STROKE HEMORAGIK RUANG GARUDA ATAS RS SALAK BOGOR

I.       PENGKAJIAN
A      Identitas Klien
Nama                           : Ny. L
Umur                           : 79 th
Jenis Kelamin              : Permpuan
Agama                         : Kristen         
Pekerjaan                     : Ibu Rumah Tangga  
Alamat                                    : Jl Padajaya 60 RT01/05 Bogor 16141
No. RM                       : 352068
Dx Medis                    : Stroke Hemoragik
Tgl Masuk                   : 28 0ktober 2006
Tgl Pengkajian            : 02 November 2006

Pengkajian Jawab
Nama                           : Ny. K
Umur                           : 42 tn
Jenis Kelamin              : Perempuan
Agama                         : Kristen
Pekerjaan                     : Ibu Rumah Tangga
Alamat                                    : Jl Padajaya 60 RT01/05 Bogor 16141
Hub. Dengan klien      : Anak

B       Keluhan Utama
      Klien tampak gelisah

C       Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada tanggal 28 Oktober 2006 keluarga klien mengatakan klien tiba-tibna saja mengalami kelemahan pada anggota tubuh bagian kanan. Pada saat dikaji tanggal 02 November 2006 klien tampak gelisah,  biasanya klien gelisah pada saat BAB dan klien akan mulai tenang ketika klien sudah di bersihkan dari kotoran BAB. Ketika gelisah klien mencoba mencabut selang infuse dan NGT maka untuk mencegah hal tersebut tangan kiri klien di restrain. Tangan kanan dan kaki kanan lemah tidak dapat digerakan, mulut klien mencong kekiri. Klien terpasang infuse asering 20 tts/mnt, NGT dan kateter.

D      Riwayat Kesehatan Dahulu
Kurang lebih satu bulan yang lalu keluarga klien mengatakan klien mengeluh pusing dan kesemutan pada tangan sebelah kanan. Klien menpunyai riwayat hipertensi, sebelum dibawa ke RS Salak klien pernah dirawat di RS BMC dengan keluhan yang sama.


E       Riwayat Kesehatan Keluarga Dan Genogram
Dalam keluarga klien ayah klien mempunyai penyakit hipertensi yang pernah diderita oleh klien.




 









KETERANGAN :

X
 
            Laki – laki meninggal
Oval: X            Perempuan meninggal


 
            Laki - laki
            Perempuan
----------         Tinggal serumah



F        Pemeriksaan Fisik
1.      Tingkat kesadaran
kualitatif : sopor
kuantitatif
-    respon motorik               : 3
-    respon verbal                  : 2
-    respon membuka mata   : 4
                                  jml     9
2.      Tanda-tanda vital
TD             : 200/110 MMhG
N               : 96 x/mnt
S                : 37 OC
R               : 24 x/mnt
MAP         : 200 + 110 = 155 mmHg
                           2
G      Pemeriksaan Sistemik
Kepala :
Rambut : ketika di palpasi rambut klien tampak kotor dan berminyak
Mata : ketika dilakukan  pemeriksaan pada pupil tampak pupil klien isokor.
Hidung : tampak lubang hidung klien bagian kanan terpasang NGT
Mulut : mulut klien mencong kekiri, klien tampak sudah tidah memiliki gigi, lidah klien tiadak jatuh ke belakang, lidah tampak bersih, mukosa bibir tampak lembab.
Telinga : telinga klien tampak bersih, klien dapat mendengar dengan baik saat diajak bicara.
Leher : ketika di inspeksi  vena zigularis klien tampak nyata (sedikit membesar), ketika klien minum obat klien dapat memelannya dengan baik.


-    Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas atas       : tangan kanan tidak dapat digerakan dengan maksimal. Reflex bisep dan trisep      pada tangan kiri
Ekstremitas bawah   : kaki kanan klien tidak dapat digerakan
Refle patella dan babinski     pada kaki kiri
Kekuatan otot           1  5
                                 1  5
Klen tampak terpasang kateter dan bokong klie tampak lecet.   

H      Pemeriksaan Saraf Kranial
1.      N I (Olfaktorius)
Klien tidak dapat membedakan bau balsam dan minyak kayuputih karena klien tidak mampu berbicara dengan jelas.
2.      N II (Optikus)
Klien tidak dapat mengatakan bahwa klien mampu melihat atau tidak dengan jelas apa yang dilihatnya.
3.      N III, N IV, N VI (Okulomotorius, toklearis, abdusen)
Klien mampu menggerakan bola matanya kearah atas, bawah, kanan dan kiri.
4.      N V (Trigeminal)
Klien mampu merasakan sentuhan kapas pada pipi.
5.      N VII (Fasialis)
Klien dapat mengekspresikan marah ketika klien dilakukan tindakan oleh perawat dan keluarga.
6.      N VIII (Vestibulokoklear)
Klien mampu mendengar dengan baik setiap perkataan yang diucapkan perawat.
7.      N IX (Glosovaringeus)
Klien tidak dapat membedakan rasa gula dan garam karena bicaranya tidak jelas.
8.      N X (Vagus)
Klien dapat menelan dengan baik.
9.      N XI (Aksesorius)
Klien tidak mampu menahan  dorongan tangan perawat padasaat perawat menekan bahu klien yang sedang diangkat.
10.  N XII (Hipoglosus)
Klien tidak dapat menjulurkan lidah ke depan, belakang, kanan dan kiri.

I         Kebiasaan Sehari-Hari
No
Kebiasaan
Di rumah
Di Rumah Sakit
1
makan
Makan 3x sehari, 1 porsi habis

Makanan cair melalui NGT, seperti susu dan jus buah-buahan.
2
Minum 
Kurang lebih 6 gelas/hari
Kurang lebih 4 gelas/hari
3
Istirahat dan tidur
Klien tidur kurang lebih 8 jam/hari
Klien tidur terus menerus 18 jam/hari
4
eliminasi
Klien BAB 1x sehari, BAK kurang lebih 5x sehari
Klien BAB 3x sehari, BAK melalui kateter
5
Aktivitas
Klien mampu beraktivitas dengan baik
Klien tidak dapat beraktivitas karena mengalami kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah bagian kanan, dank lien mengalami penurunan kesadaran
6
Personal higiene
Klien mampu melakukan personal hygiene secara mandiri. Mandi dan gosok gigi 2x sehari dan keramas 3 hari ix
Personal higiene dibantu oleh keluarga, klien mandi dilap dengan air hangat

J         Data Psikologis
Klien tampak belum dapat menerima penyakitnya karena klien tampak gelisah dan sesekali marah-marah.

K      Data Sosial
Hubungan klien dengan keluarga, tetangga dan lingkungannya baik. Klien kurang kooperatif dengan perawat karena terjadi penurunan kesadaran.
L       Data Spiritual
Klien beragama Kristen, selama di RS klien tidak dapat melakukan ibadah sebagaimana biasanya.
M     Data Penunjang
Hematology
Hemoglobin    12,2     gr %
Hematokrit      37        gr %
Trombosit        240 ul  rb/mm3
Leukosit          5400    rb/mm3
Kimia klinik
GDS    122      mg/dl
Ureum 14        mg/dl
Kreatinin         0,7       mg/dl
SPOT  19        u/l
SGPT  16        u/l
E. Natrium      138      mmol/l
E. Kalium        3,4       mmol/l
N      Terapi
Terapi parenteral
Broadsed         1x2      gr
Neurotam        1x12    gr
Brain act          2x500  mg
Manitol            4x125  cc
Terapi oral
Rantin 2x1      tab
Asabium          1x1/2   tab
Captropil         1x1      tab

II.    Analisa Data
(tetlampir)
III. Diagnosa Keperawatan
1.                  Perubahan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan TIK
2.                  Kerusakan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik
3.                  Kerusakan komunikasi verbal b.d kerusakan sirkulasi serebral
4.                  Defisit perawatan diri b.d kelemahan fisik

IV. Rencana Asuhan Keperawatan
(terlampir)
V.    Implementasi
(terlampi























    1. IMPLEMENTASI


Hari/tanggal
jam
No dx
implementasi
evaluasi
Ttd
Kamis, 2 november 2006
09.00
09.30




09.45

10.00


10.30






10.45



11.00

11.15


11.30







11.45


12.00


12.15
















13.00



13.30

13.45
1

















2
















3






















4
-        memantau tanda-tanda vital
-        menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan perfusi serebral dan potensial peningkatan TIK
-        mengatur posisi kepala klien
-        mempertahankan tirah baring, ciptakan lingkungan tenang
-        memberikan obat oral dan parenteral



-        mengkaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dan dengan cara teratur
-        melakukan latihan ROM pasif
-        mengatur posisi badan klien dengan miring kanan dan kiri
-        memeriksa kekuatan otot





-        mengkaji tipe/derajat disfungsi seperti pasien kesulitan bicara
-        berbicara dengan nada normal dan menghindari percakapan yang cepat
-        menganjurkan pengunjung/orang terdekat mempertahankan usahanya untuk berkomunikasi dengan pasien










-        mengkaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
-        membersihkan BAB dan mengganti pampers
-          mengidentifikasi kebiasaan defekasi
S: -
O:-Klien Tampak Gelisah
    -Td: 180/100 Mmhg
    -S    : 36,7
    -N   : 84
    -R    : 22
A: Masalah Teratasi Sebagian
P:- Pantau Ttv
    -Atur Posisi Kepala Klien
    - Pertahankan Tirah Baring
    -Berikan Obat Oral Dan Parentera
l

S: -
O:-Klien Tampak Lemah
    -Tangan Dan Kaki Kanan Klien Tidak Dapat Digerakan
    -Kekuatan Otot     1 5 
                                  1 5
A: Masalah Teratasi Sebagian
P:-Lakukan Rom Pasif
   -Atur Posisi Bdan Klien Dengan Miring Kiri Dan Kanan
   -Periksa Kekuatan     Otot


S: -
O:-Klien Bicara Tidak Jelas
    -Mulut Klien Mencong Ke Kiri
    -Klien Tidak Dapat Menjulurkan Lidah
A: Masalah Teratasi Sebagian
P:-Bicara Dengan Nada Normal Dan Menghindari Percakapan Yang Cepat
   -Anjurkan Pengunjung/Orang Terdekat Mempertahankan Usahanya Untuk Komunikasi Dengan Pasien


S:-
O:-Personal Higiene Klien Di Bantu
    -Klien Mandi Di Lap Dengan Air Hangat
A:Masalah Teratasi sebagian
P:-bersihkan BAB dang anti pampers
   -identifikasi kebiasaan defekasi











Post a Comment